Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Nabi Ilyas – Berhala Ba’al


Kisah Nabi Ilyas – Berhala Ba’al

Menurut silsilah Nabi Ilyas adalah keturunan keempat dari Nabi Harun Alaihis Salam. Nasab Nabi Ilyas sendiri berasal dari putra Yasin bin Fanhash bin Aizar bin Harun Alaihis Salam. Menurut sejarah, ia diutus di Kerajaan Samaria, pecahan dari Kerajaan Israel Milik Nabi Sulaiman itu sendiri karena pergolakan internal kerajaan.

Ajakan Nabi Ilyas kepada Kaumnya

Kaum Nabi llyas itu menyembah patung yang disebut Ba'al. Nabi llyas mengajak kaumnya supaya meninggalkan penyembahan terhadap berhala itu dan kembali hanya menyembah kepada Allah saja.
Nabi Ilyas berkata kepada kaumnya : "Takutlah kepada Allah yaitu Tuhan kamu, yang menciptakan kamu dan Tuhan dari nenek moyangmu dulu.”

Tiada jemu-jemunya, Nabi lyas menyeru kaumnya agar meninggalkan paganisme atau aliran kepercayaan penyembahan terhadap berhala. Namun, mereka tetap saja membangkang dan mengejeknya. Mereka malah merencanakan hendak membunuh Nabi llyas.

Allah tidak membiarkan hamba-Nya yang shaleh dan ikhlas beramal dianiaya orang-orang kafir. Kaum durhaka itu diazab dengan datangnya musim kemarau panjang beberapa tahun lamanya. Tak ada air hujan yang turun sama sekali, sehingga membuat tanaman dan ternak mereka mati bergelimpangan, air minum sangat sulit didapatkan bahkan hampir habis sama sekali.

Barulah mereka ingat kepada Nabi Ilyas, mereka datang kepadanya dan memohon agar dido'akan kepada Allah supaya hujan turun. Mereka berjanji untuk bertaubat dan mengikuti ajaran Nabi Ilyas.

Nabi Ilyas segera berdo'a dan akhirnya hujan pun turun dengan deras setelah Allah mengabulkan permohonan mereka. Tanah pertanian kembali hijau subur seperti semula dan suasana kehidupan menjadi tentram kembali. Beberapa tahun kemudian, mereka melupakan janji mereka terhadap ajakan Nabi llyas. Mereka tidak jera untuk kembali menyembah berhala dan berbuat kedurhakaan.

Maka datanglah azab Allah, mereka ditimpa dengan gempa bumi yang amat dahsyat sehingga mati bergelimpangan, sedangkan Nabi llyas dan para pengikutnya diselamatkan oleh Allah.

Misteri Akhir Hayat Nabi Ilyas

Banyak para ulama dan perawi hadis saling berselisih pendapat tentang kewafatan Nabi Ilyas, ada di antara mereka yang percaya bahwa Nabi Ilyas itu telah wafat dan diembankan misi dakwahnya kepada Nabi Ilyasa, namun beberapa pendapat para ulama yang bersikukuh bahwa Nabi Ilyas masih hidup dan berdampingan dengan Nabi Khidir.

Bahkan mereka percaya hanya ada 4 Nabi yang masih hidup hingga saat ini atas izin Allah SWT. yaitu Nabi Idris dan Nabi Isa yang berada di langit sedangkan Nabi Ilyas dan Nabi Khidir berada di bumi (ada pendapat yang mengatakan Nabi Khidir berada di lautan dan Nabi Ilyas berada di daratan), Wallahu ‘Alam bis Showab.

Alkisah, Nabi Ilyas dan Nabi Ilyasa sebenarnya sama-sama mengemban misi dakwah untuk menyadarkan Bani Israel agar kembali menyembah Allah dan meninggalkan persembahan berhala mereka. Namun, pada suatu ketika Nabi Ilyas sedang beristirahat di suatu tempat dan Malaikat Maut datang menghampiri untuk menjalankan tugasnya seraya berkata,
“Hai Ilyas, penuhilah panggilan Allah, kini saatnya engkau menghadap Allah dan bersiap-siaplah karena nyawamu akan segera kucabut !”
Mendengar hal itu, dia menjadi sedih dan menangis setelah mengetahui waktu ajalnya sudah dekat. Malaikat Maut heran dan segera bertanya, “Mengapa engkau bersedih, Wahai Ilyas ?. Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunya dan takut menghadapi kematian ?”

“Tak ada satupun yang aku sesali kecuali tak ada lagi waktu untukku berdzikir kepada Allah, sementara orang lain masih bisa terus berdzikir memuji Allah,” jawab Nabi Ilyas Alahis Salam.

Akhirnya, Allah memberikan wahyu kepada Malaikat Maut untuk membatalkan pencabutan nyawa terhadapnya sampai waktu yang Allah kehendaki seraya berfirman,
“Biarlah Nabi Ilyas hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berdzikir kepada-Ku sampai akhir nanti”.
Allah Ta’ala mengabulkan permohonan Nabi Ilyas dan memberikan kesempatan umur yang panjang supaya dapat berdzikir kepada kepada-Nya selama-lamanya hingga tibanya Hari Kiamat.

Berlangganan via Email