Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Nabi Daud - Raksasa Jalut dan Kitab Zabur


Kisah Nabi Daud - Raksasa Jalut dan Kitab Zabur

Nabi Daud AS, beliau adalah putra dari Yesai (Isya) bin 'Ubaid bin Mu'adz bin Salmun bin Hasyun bin Aminadab bin Aram bin Hashrun bin Farij bin Yahuda bin Ya'qub AS bin Ishak AS, dan tetap bersambung ke tali keturunan Nabi Ibrahim Alahis Salam.

Bani Israil Minta Petunjuk Nabi Samuel

Sesudah Nabi Harun dan Nabi Musa wafat, Kaum Bani Israil dipimpin oleh Yusya' bin Nun. Kepemimpinan Yusya' bin Nun itulah membawa keberhasilan mereka untuk menguasai Tanah Palestina dan bertempat tinggal di sana.

Namun setelah Yusya' bin Nun meninggal, mereka terpecah belah. Isi Kitab Taurat berani mereka rubah dan ditambah-tambah sesuai selera mereka sendiri (pemuka agama). Akibatnya, mereka selalu bersilang-pendapat dan berselisih tak kunjung henti dan akhirnya hilanglah kekuatan persatuan mereka. Tanah Palestina diserbu dan dikuasai oleh bangsa lain, sedangkan Bangsa Bani Israil kembali menjadi bangsa jajahan yang tertindas seperti dahulu kala di Mesir.

Mereka sangat prihatin atas kondisi diri mereka masing-masing dan merindukan datangnya sosok seorang pemimpin yang tegas dan gagah berani untuk berperang melawan penjajah. Pada suatu hari, mereka pergi menemui Nabi Samuel untuk meminta petunjuk dari Tuhan.

 Mereka berkata, "Wahai Samuel, angkatlah salah seorang di antara kami sebagai Raja yang akan memimpin kita berperang melawan penjajah."

"Aku khawatir bila sudah mendapat pemimpin yang dipilih Allah, justru kalian tidak mau berangkat berperang," kata Nabi Samuel dengan penuh keraguan.

"Kita sudah lama menjadi bangsa yang tertindas, kita tidak mau menderita lebih lama lagi. Kita harus menegakkan agama Allah,” ujar mereka.

Karena didesak oleh kaumnya, Nabi Samuel berdo'a meminta hal itu kepada Allah. Do'anya dikabulkan dan mendapatkan wahyu supaya Thalut diangkat sebagai Raja yang akan memimpin mereka.

Begitu nama Thalut diucapkan oleh Nabi Samuel, mereka justru menolak. Karena nama Thalut tidak begitu dikenal dan bukan termasuk golongan orang yang terkemuka. Ia hanya seorang petani biasa yang digolongkan sebagai orang miskin.

Nabi Samuel segera menjelaskan, bahwa walaupun Thalut itu petani biasa namun ia pandai strategi perang, tubuhnya kekar kuat dan pandai dalam ilmu tata negara. Akhirnya, mereka mau menerima Thalut sebagai Raja mereka.

Jalut dan Daud

Thalut mengajak orang-orang dewasa yang masih belum menikah dan tidak berdagang untuk terjun ke medan perang. Dengan memilih orang-orang terbaiknya itu, ia berharap mereka dapat memusatkan diri pada pertempuran dan tak menghiraukan lagi urusan rumah tangga dan perdagangan.

Salah seorang anak muda yang ikut dalam barisan Thalut adalah seorang remaja bernama Daud. la diperintah oleh ayahnya untuk menyertai kedua kakaknya yang maju ke medan perang. Daud tidak diperkenankan maju ke garis depan, ia hanya disuruh melayani kedua kakaknya. Tempatnya di garis barisan yang paling belakang. Jika kedua kakaknya lapar atau haus, dia-lah yang akan melayani dan menyiapkannya kepada mereka.

Tentara Thalut sebenarnya tidak seberapa banyak, bila dibandingkan dengan lawannya justru jauh lebih besar dan banyak jumlah kekuatannya tentara Jalut Sang Penindas. Jalut sendiri adalah seorang panglima perang yang bertubuh besar seperti raksasa. Setiap orang yang berhadapan dengannya selalu mati binasa.

Tentara Thalut gemetar saat melihat keperkasaan musuh-musuhnya itu. Melihat tentaranya ketakutan, Thalut berdo'a kepada Allah : "Ya Tuhan kami, curahkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir."

Dengan kekuatan do'a itu, maka mereka menyerbu tentara Jalut dan bertempur dengan gagah berani. Tentara Jalut tak mengira pasukan lawan yang berjumlah sedikit itu mempunyai keberanian bagaikan singa buas yang kelaparan. Akhirnya, tentara Jalut dapat diporak-porandakan dan lari tercerai-berai.

Tinggal seorang Jalut Sang Panglima Penindas dan beberapa pengawalnya yang masih tersisa. Thalut dan para tentaranya tak berani berhadapan dengan raksasa itu. Lalu, Thalut mengadakan sayembara bahwa barang siapa yang dapat membunuh Jalut, maka imbalannya adala ia akan diangkat sebagai menantunya.

Tak disangka dan diduga, Daud yang masih berusia remaja tampil ke depan dan meminta izin kepada Thalut untuk menghadapi Jalut. Mula-mula Thalut ragu melihat kemampuan Daud yang masih muda itu yang akan mengalahkan Jalut, namun setelah didesak berkali-kali oleh Daud ia pun mengizinkan anak muda itu maju duel di medan perang.

Dari kejauhan, Thalut melihat sepak terjang mereka berdua yang akan berduel. Daud mulai berani menantang Jalut. Awalnya, Jalut bertingkah sangat sombong sekali, ia telah berteriak berkali-kali menantang orang-orang Israil untuk berperang duel tanding.

Ia juga mengejek Bangsa Israil sebagai Bangsa pengecut disertai hinaan-hinaan lainnya yang menyakitkan hati mereka. Setelah melihat anak kecil Daud berhadapan di depannya, ia mulai tertawa terbahak-bahak melihat anak muda itu menantangnya untuk duel.

Daud tidak membawa senjata tajam, yang disiapkan olehnya sebagai alat perang hanyalah sebuah ketapel dan beberapa batu.

Bekali-kali Jalut melayangkan pedangnya untuk membunuh Daud, namun Daud dapat menghindar dengan gesitnya. Pada suatu kesempatan, Daud berhasil melayangkan peluru batu ketapelnya tepat pada dahi bagian di antara kedua mata Jalut.

Jalut lantas berteriak dengan keras, tubuhnya roboh dengan kondisi dahi yang pecah dan mati mengenaskan. Dengan demikian, kemenangan telak jatuh kepada pihak pasukan Thalut yang sudah berhasil mengalahkan bala tentara Jalut. Sesuai dengan janjinya, Daud diangkat sebagai menantu Raja Thalut dan dijodohkan dengan putri kesayangannya yang bernama Mikyal.

Daud Menjadi Raja

Di sampĂ­ng menjadi menantu Raja, Daud juga dipercaya dapat dijadikan sebagai penasihat Raja. Ia dihormati oleh semua orang, terlebih rakyatnya seakan-akan mereka lebih menghormati Daud dibandingkan Raja Thalut itu sendiri.

Hal ini membuat Thalut merasa jengkel dan iri hati kepadanya. Ia berusaha mencelakakan Daud dengan mengirimkannya terjun ke medan perang yang sangat sulit. Daud ditugaskan untuk membasmi musuh yang jauh lebih kuat dan besar jumlahnya, namun di benak sang Raja berkata lain dengan harapan supaya Daud gugur dalam peperangan tersebut.

Namun, Daud justru memenangkan pertempuran itu dan kembali ke istana dengan sambutan luapan kegembiraan rakyatnya. Thalut semakin iri dan sakit hati atas kepopuleran Daud di mata rakyatnya. la terus mencoba membunuh dan menyingkirkan Daud dengan berbagai cara, namun selalu menemui kegagalan. Daud ternyata selalu dilindungi oleh Allah.

Akhirnya, terjadilah perang terbuka antara Kubu Raja Thalut dan Kubu Daud. Dalam peperangan itu, akhirnya Thalut tewas seketika bersamaan dengan anaknya putra mahkota. Setelah usai perang tersebut, maka Daud diangkat sebagai Raja Israil.

Keistimewaan Nabi Daud

Nabi Daud dikaruniai beberapa keistimewaan dari Allah, yaitu dengan ditundukkannya gunung-gunung supaya ikut bertasbih memuji Allah bersama Nabi Daud pada waktu pagi, siang dan malam. Demikian pula, burung-burung telah ditundukkan kepada Daud untuk berkumpul sambil memuji Allah bersama Nabi Daud.

Cara Nabi Daud Mengatur Hari-Harinya

Nabi Daud membagi hari-harinya menjadi 4 bagian, yaitu sehari untuk beribadah, sehari menjadi hakim, sehari untuk memberikan pengajaran dan sehari lagi untuk kepentingan pribadi.

Puasa Nabi Daud

Nabi Daud suka berpuasa, beliau selalu menunaikan ibadah puasa sehari dan berbuka sehari secara berselang-seling.

Peringatan Allah kepada Nabi Daud 

Para Nabi dan Rasul tentunya hanyalah manusia biasa yang dipilih oleh Allah agar dapat dijadikan sebagai panutan atau suri teladan bagi kalangan kaumnya, jika ia bermasalah atau melakukan penyimpangan keburukan maka Allah segera menegur dan memperingatkannya secara langsung.

Demikian pula halnya yang terjadi dengan Nabi Daud, ia mempunyai isteri sebanyak 99 orang. Memang, pada masa itu tidak ada aturan pembatasan bagi seorang lelaki untuk memiliki beberapa orang isteri, terlebih lagi bagi seorang raja. Nabi Daud ingin menggenapkan jumlah isterinya menjadi 100 orang.

Pada suatu hari, datanglah 2 orang lelaki mengadu kepada Nabi Daud :
"Saudaraku ini mempunyai kambing 99 ekor, sedangkan aku hanya memiliki seekor saja, tetapi ia menuntut dan mendesakku supaya kambingku yang hanya seekor itu kuserahkan kepadanya, agar kambingnya genap menjadi 100 ekor. Ia selalu membawa berbagai alasan yang tak bisa kubantah karena aku juga tak pandai berdebat.”
"Benarkah ucapan saudaramu itu ?" tanya Nabi Daud kepada pria lainnya.
"Benar," jawab pria itu.

“Jika demikian halnya," kata Daud dengan marah. "Maka, saudaramu telah berbuat zalim. Aku tidak akan membiarkanmu meneruskan perbuatanmu yang semena-mena itu atau engkau akan mendapat hukuman pukulan pada wajah dan hidungmu," tegasnya.

Salah satu pemuda yang dituduh zhalim itu lantas tertawa setelah mendengarkan hukuman tersebut seraya berkata kepada Raja Daud,
"Hai Daud ! Sebenarnya engkaulah yang pantas mendapat hukuman yang kau ancamkan kepadaku itu. Bukankah engkau telah mempunyai 99 isteri, tetapi kenapa engkau masih menyunting lagi seorang gadis yang sudah bertunangan dengan pemuda yang menjadi anggota tentaramu sendiri, padahal pemuda itu setia dan berbakti kepadamu."
Nabi Daud tercengang mendengar ucapan pria yang tegas dan berani itu. Ia berpikir keras mengenai siapa sesosok kedua pria yang berani itu. Setelah terjadi percakapan seperti itu, mereka berdua mendadak hilang lenyap tanpa bekas di hadapannya.

Nabi Daud akhirnya paham bahwa ia telah diperingatkan Allah melalui kedua Malaikatnya. la langsung jatuh tersungkur sambil bersujud, bertaubat dengan penuh penyesalan dan memohon ampun kepada Allah, dan Allah langsung menerima taubatnya.

Mukjizat Nabi Daud

Beberapa mukjizat di antara lain, ialah besi dapat dilunakkan seperti lilin dan dapat dirubah sekehendaknya tanpa memakai api maupun dengan alat bantuan apapun. Dari besi itu pula, ia dapat membuat baju besi yang dikokohkan dengan tenunan dari bulatan-bulatan rantai yang berkesinambungan jalinannya satu sama lain.

Jenis baju ini memberikan banyak kelebihan bagi para pemakainya, sehingga menjadikan mereka dapat bebas bergerak, tidak kaku seperti baju besi sebelumnya yang hanya dibuat dari besi-besi lembaran saja. Nabi Daud juga dikaruniai dengan suara yang sangat merdu sekali.

Sedangkan, Kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud namanya adalah Kitab Zabur yang berisikan pelajaran, peringatan dan nyanyian-nyanyian indah (Mazmur) dalam bentuk pujian kepada Tuhan.

Asal Usul Baitul Maqdis

Pada suatu hari, terjadilah wabah penyakit kolera yang menjangkit di wilayah Kerajaan Israel yang dikuasai oleh Raja Daud. Banyak rakyat yang mati bergelimpangan karena penyakit ini. Nabi Daud lantas berdo'a kepada Allah, supaya dapat menghilangkan wabah penyakit itu.

Setelah wabah penyakit ini berakhir dan diangkat oleh Allah, sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah, maka Nabi Daud mengajak putranya yaitu Sulaiman untuk membangun tempat suci yang kelak akan bernama Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa.

Berdasarkan kebanyakan para ahli hadits dan pakar sejarah, telah meriwayatkan Nabi Daud telah wafat saat berusia 100 tahun dan dimakamkan di kawasan Baitul Maqdis, Yerussalem. Konon, ia diwafatkan oleh Allah melalui Malaikat Maut yang diutuskan ke hadapannya supaya bisa bertemu secara langsung dan mencabut nyawanya dalam kondisi sehat walafiat.