Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Burung Kekekow Kesayangan – Cerita Rakyat Sulawesi Utara


Kisah Burung Kekekow Kesayangan – Cerita Rakyat Sulawesi Utara

Ada seorang ibu miskin hidup dengan kedua anak perempuannya yang masih kecil. Mereka tinggal di hutan dengan dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Demikian miskinnya mereka, maka jika mau makan siang saja mereka harus mencarinya di pagi hari, sedangkan untuk makan sore saja mereka harus mencarinya di siang hari.

Di hutan sekitar rumah mereka, hiduplah seekor Burung Kekekow. Burung ini mempunyai keajaiban dan sering menolong kedua anak perempuan itu.

Pada suatu hari, ibu miskin dan kedua anaknya belum mendapat makanan, padahal sudah sejak pagi mereka mencarinya namun hingga siang hari belum menemukan makanan, mereka pulang ke pondoknya untuk beristirahat supaya nanti akan mencari makanan lagi.

Saat itu, burung kekekow bertengger di atas sebatang pohon dekat pondok kedua gadis itu. Burung itu tahu bahwa hari itu mereka belum mendapat makanan, maka burung itu menjatuhkan berbagai macam makanan di bawah pohon. Demi mendengar jatuhnya sesuatu, dari pohon yang tak jauh dari pondok mereka kedua gadis itu segera menghampirinya.

Mereka kaget setelah melihat begitu banyak makanan di bawah pohon. Mereka memanggil ibunya agar keluar rumah. Sang ibu juga kaget bercampur girang melihat banyaknya makanan berupa buah-buahan matang dan lezat.

Dengan segera, mereka bergegas mengangkat seluruh makanan itu ke pondok mereka. Baru saja mereka tiba di pondoknya, terdengar lagi oleh mereka bunyi burung kekekow itu,
"Keke...kow, keke...kow, kekekow, kow, kow. Hai gadis manis, mari mendekatlah. Jangan kalian jauh- jauh dari diriku sebab aku akan menolongmu."
Kedua gadis itu pun segera berlari menuju pohon yang rimbun, tempat burung kekekow bertengger. Seketika itu pula, terdengarlah bunyi hamburan bermacam-macam makanan dari atas pohon. Mereka sangat gembira dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada burung yang baik hati itu.

Demikian selanjutnya setiap saat mereka kehabisan makanan, Burung Kekekow yang baik hati itu selalu memberikan mereka makanan. Bahkan di hari-hari kemudian, bukan hanya makanan yang diberikan kepada mereka tetapi juga peralatan rumah tangga yang mereka perlukan.

Suatu hari di musim kemarau karena mereka kekurangan air, Burung Kekekow memberikan air kepada mereka. Dengan demikian, hidup mereka tidak lagi sesengsara seperti masa-masa sebelumnya. Rupanya, kejadian ini didengar oleh teman-teman sekitar mereka.

Iri hati dan kedengkian teman-teman kedua gadis ini menyebabkan Burung Kekekow ditangkap dan diserahkan kepada tetua-tetua kampung. Mereka saling berebut meminta berbagai macam makanan kepada burung yang ditangkapnya itu. Namun, burung kekekow tidak mau mengabulkan permintaan mereka.

Hal itu tentu saja menimbulkan amarah tetua-tetua kampung tersebut dan mereka bersepakat untuk membunuh Burung Kekekow itu. Tidak lama kemudian, burung itu pun dibunuh. Bangkainya dibuang di belakang rumah salah seorang penduduk.

Ketika kedua gadis miskin yang selalu ditolong oleh burung kekekow telah mengetahui akan kematian burung kesayangan mereka, maka mereka pun mencari bangkainya dan menguburkannya dengan baik. Mereka sangat menyesal dan bersedih hati atas kematian sahabat mereka itu.

Tiada henti-hentinya, mereka menyesali perbuatan para tetua-tetua kampung yang telah berlaku kejam kepada burung yang baik hati itu. Selang beberapa tahun dari peristiwa itu, kedua gadis itu menjadi remaja yang cantik.

Kehidupan mereka kini pun tidak lagi separah masa lalu karena seluruh pemberian yang dahulu pernah diberikan oleh Burung Kekekow disimpan oleh mereka dengan hati-hati dan cermat. Mereka tidak menghambur-hamburkannya sembarangan. Mereka hanya menggunakan sesuai dengan kebutuhan seperlunya saja.

Mereka tidak pernah melupakan kebaikan hati burung kekekow tersebut. Mereka selalu datang ke kuburan Kekekow untuk mendoakan burung kesayangan mereka itu. Bertahun-tahun setelah kematian Kekekow, tumbuhlah di atas kuburannya sebuah pohon yang berbuah lebat.

Kedua gadis remaja itu bersama ibunya selalu datang memetik buahnya yang enak dengan aroma yang menyenangkan. Hal ini didengar pula oleh para tetua kampung. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengambil alih seluruh milik keluarga gadis itu dengan paksa, sehingga habislah seluruh milik keluarga gadis ini. Setelah kejadian itu, mereka kembali hidup miskin.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Burung Kekekow Kesayangan – Cerita Rakyat Sulawesi Utara, yaitu jangan iri terhadap kenikmatan/keberuntungan yang dirasakan orang lain, senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan siapa saja yang telah menolong kita, jangan boros, harus membiasakan hemat sejak dini dan tidak menghamburkan apa yang dipunya secara sembarangan, jangan merampas segala sesuatu yang bukan hak miliknya.
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.


Berlangganan via Email