Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Asal Mula Batu Manggu Masak – Legenda Kalimantan Selatan


Kisah Asal Mula Batu Manggu Masak – Legenda Kalimantan Selatan

Ada sebuah desa bernama Malinau yang letaknya di Kecamatan Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Propinsi Kalimantan Selatan. Kira-kira 1 kilometer dari tempat itu, ada sebuah air terjun bernama Mandin Tangkaramin. Konon menurut bahasa penduduk di sana, Mandin berarti air terjun. Jadi, Mandin Tangkaramin berarti Air Terjun Tangkaramin.

Air terjun itu tidak terlalu tinggi, sekitar 13 meter. Hutan lebat mengelilinginya sehingga jika berada di hutan itu terasa selalu dalam dekapan gelap malam. Di dasar Air Terjun Mandin Tangkaramin, terdapat bongkahan-bongkahan batu besar dan kecil.

Di antaranya ada bongkahan batu besar berwarna merah, semerah kulit manggis yang ranum, bernama Manggu Masak.

Menurut legenda air terjun itu, ada hubungannya dengan satu kejadian, yakni perkelahian satu lawan satu (duel) antara Bujang Alai dengan Bujang Kuratauan. Kedua pemuda itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Akibatnya, mereka hidup dalam persaingan yang membuahkan dendam. Bujang Alai adalah seorang pemuda tampan, angkuh, dan kaya. Ia selalu menyisipkan keris di pinggangnya setiap pergi ke mana saja dan juga selalu membawa jimat ampuh. Karena merasa yakin akan kelebihannya, ia sering bertindak sesuka hati dan selalu mempertontonkan keberaniannya di mana saja dengan harapan orang-orang tertarik kepadanya.

Berbeda sekali keadaannya dengan Bujang Kuratauan. Ia berpenampilan sederhana dan tidak setampan Bujang Alai. Ia seorang pemuda yang rendah hati dan penyabar. Selain itu, cara berpikir dan gagasannya menunjukkan kejernihan otaknya dan dia juga bukan dari kalangan orang kaya.

Akan tetapi, ia punya sisi lain yang dapat diandalkan. Ia tidak berusaha menonjolkannya, tetapi muncul sendiri karena diharapkan masyarakat. Musyawarah di desa terasa belum lengkap tanpa kehadirannya. Sebuah keputusan dalam rapat tidak akan diambil tanpa ia turut menganggukkan kepala.

Jika Bujang Alai menyelipkan keris dan jimat selilit pinggang untuk menambah keangkuhannya, Bujang Kuratauan pun selalu membawa senjata setiap bepergian. Parang bungkul, senjata tradisional orang Banjar yang selalu tersangkut di pinggangnya. Akan tetapi, senjata itu tidak akan keluar dari sarungnya jika bukan untuk menegakkan kehormatan, kebenaran, dan keadilan.

Pada suatu hari, desa mereka gempar karena telah terjadi sebuah peristiwa yang dianggap melanggar ketentuan adat dan mencemarkan nama keluarga, serta mencorengkan arang di muka anggota masyarakat tersebut. Seorang gadis hilang entah ke mana tanpa diketahui sebabnya.

Bukan hanya orang tua gadis itu yang panik dan amat terpukul, Bujang Kuratauan pun terusik perasaannya. Walaupun gadis itu bukan keluarganya atau perempuan yang akan dijodohkan kepadanya, peristiwa itu dirasakan sebagai tantangan terhadap dirinya.

Ia diminta menunjukkan kemampuannya untuk menemukan gadis itu. Oleh karena itu, Bujang Kuratauan bertekad menyelidiki perkara ini sampai tuntas. Jauh di hati kecilnya, muncul kecurigaan bahwa Bujang Alai menculik gadis itu.

Belum lagi usaha pengusutan mencapai titik terang, Bujang Alai tiba-tiba menepuk dada seolah menantang. Ia berkata dengan lantang,
"Di rumah saya, ada seorang gadis yang saya sembunyikan. Silakan jemput gadis itu, tetapi dengan syarat orang itu mampu menahan ujung kerisku lebih dulu !"
Jelaslah bahwa Bujang Alai menantang Bujang Kuratauan. Dahi Bujang Kuratauan mulai berkerut, daun telinga memerah, gigi gemeretuk dan mata tajam melukiskan amarah. Tangan kanannya meraba hulu parang bungkulnya.

Ia berkata dengan suara datar, "Aku tak akan menjemput gadis itu ke rumahmu, tetapi aku menuntut tanggung jawabmu sebagai lelaki !"

"Lelaki maksudmu ? Keris ini membuktikan kelelakianku ! Tentukan tempat dan waktunya !" ujar Bujang Alai sambil meraba keris di pinggang.

"Musuh tidak kucari, tetapi jika bersua pantang kuelakkan," kata Bujang Kuratauan.

Ia berusaha meredam kemarahannya, "Jika kerismu mau menjual darah, parang bungkul tumpul ini mampu membelinya !"

Sudah dapat diduga apa yang akan terjadi antara Bujang Kuratauan dan Bujang Alai. Perang tanding yang terelakkan itulah yang akan terjadi. Keris Nagarunting milik Bujang Alai ditarik dari sarungnya, diacungkannya ke atas, dan diliuk-liukkannya ke dara dengan sombong.

Bujang Kuratauan tidak ingin kalah aksi melihat unjuk kebolehan yang dipamerkan Bujang Alai. Parang bungkulnya yang tajam berkilat berkelebat membelah udara, dipermainkannya dengan kecepatan tinggi. Setelah mempertunjukkan kebolehan masing-masing, tanpa diduga Bujang Alai dengan tangkas melompat sambil berusaha menyarangkan keris Nagarunting ke dada Bujang Kuratauan.

Akan tetapi, Bujang Kuratauan sudah siap sehingga serangan mendadak itu tidak mengejutkannya. Dengan gerakan enteng, ujung keris yang akan menembus jantung dapat dielakkannya. Bahkan jika mau, pasti ia sempat menebaskan parang bungkulnya ke leher Bujang Alai.

Akan tetapi, Bujang Kuratauan bukan orang yang haus darah. Kesempatan emas itu tidak dimanfaatkannya. Sikap itu ternyata membuat hati Bujang Alai semakin membara dan semakin merasa dilecehkan.

"Gunakan senjatamu jika engkau merasa sebagai lelaki !" tantang Bujang Alai.

Bujang Kuratauan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, tetapi tangannya telah siap memegang hulu parang bungkul. Matanya tajam penuh selidik menyiasati gelagat yang akan dilakukan Bujang Alai. Nalurinya tidak salah. Bujang Alai menyerbu dengan membabi buta.

Ia menyarangkan kerisnya bertubi-tubi ke tubuh Bujang Kuratauan, sehingga Bujang Kuratauan susah mengelakkannya. Gemerincing keris beradu dengan parang bungkul menimbulkan kilatan api di angkasa.

Mereka memiliki kehebatan dan kemampuan tempur yang tinggi. Akhirnya, Bujang Kuratauan tidak hanya menangkis dan mengelak, tetapi ia juga menyerang dan menebaskan parang bungkulnya.

Tebasannya berkali-kali mengenai bagian-bagian rawan tubuh Bujang Alai, tetapi tidak segores pun melukai kulitnya.

Demikian halnya Bujang Kuratauan, berkali-kali ujung keris Bujang Alai tidak dapat dielakkannya, tetapi sama sekali tidak mencederainya.

"Kita lanjutkan di tempat lain !" ujar Bujang Alai. Di mana pun aku setuju !" sahut Bujang Kuratauan.
"Mandin Tangkaramin pilihanku !" ujar Bujang Alai.
"Baik, aku setuju !" sahut Bujang Kuratauan.

Perang tanding ditunda sementara. Mereka sepakat, Mandin Tangkaramin sebagai arena perkelahian berikutnya. Waktu luang menjelang saat pertarungan berikut itu mereka gunakan untuk mempersiapkan diri agar dapat mengalahkan lawan.

Setelah merenung dan menilai kehebatan Bujang Alai, Bujang Kuratauan berkata dalam hati,
"Ia kebal. Parang bungkul yang bagaimanapun tajamnya tak akan melukai kulitnya."
Jika Bujang Alai berusaha mempertajam keris Nagarunting, Bujang Kuratauan justru membuat tumpul parang bungkulnya. Mata parangnya bukan dipertajam, melainkan diasah sehingga tumpul seperti bagian belakangnya.

Dalam pertarungan di Mandin Tangkaramin, memang tidak ada seorang pun terluka sebab keduanya sama-sama kebal. Akan tetapi, parang bungkul Bujang Kuratauan yang tumpul matanya itu membuat tubuh Bujang Alai memar atau remuk didalam.

Akhirnya, Bujang Alai pun meninggal. Tersiarlah berita tewasnya Bujang Alai di tangan Bujang Kuratauan. Kematian Bujang Alai itu membuat suasana menjadi panas. Keluarga besar Bujang Alai ingin menuntut balas sebab hutang darah harus dibayar darah.

Tapi salah seorang anggota keluarga mengingatkan bahwa sesungguhnya kesalahan ada di Pihak Bujang Alai.
"Kita tahu Bujang Alai memang berwatak sombong. Dia sendiri yang memulai masalah ini dengan menculik gadis baik-baik ke rumahnya.”
"Tapi bagaimanapun, dia adalah anggota keluarga kita. Tidak seharusnya kita berdiam diri. Lagi pula Bujang Kuratauan tidak harus membunuh Bujang Alai. Dia toh bisa mengingatkan dan menasehatinya saja.”

"Ada beberapa saksi yang melihat bahwa Bujang Alai yang menantang duel lebih dahulu. Bujang Kuratauan hanyalah melayaninya saja."

"Kenyataannya, Bujang Alai adalah anak kita, dia sudah mati terbunuh. Padahal dia telah memakai ilmu kebal keluarga kita."

Anggota keluarga lainnya yang berdarah panas dan mudah marah menyahut,
"Betul, tewasnya Bujang Alai adalah penghinaan keluarga kita. Apakah ilmu keluarga kita lebih rendah dari ilmu keluarga Bujang Kuratauan ?"
"Baiklah kita buktikan saja, apakah Bujang Kuratauan mampu membunuh Bujang Alai secara jantan atau dengan cara curang dan tipu muslihat."

Demikianlah, musyawarah keluarga Bujang Alai telah memutuskan untuk menuntut balas atas kematian anggota keluarga mereka. Keputusan keluarga Bujang Alai terdengar oleh pihak keluarga Bujang Karatauan.

Keluarga Bujang Alai adalah keluarga yang besar dan kaya raya. Pengikut mereka cukup banyak. Sementara keluarga Bujang Kuratauan hanyalah keluarga sederhana dan tidak banyak sanak kerabatnya. Walaupun mereka didukung oleh masyarakat setempat.

Mereka tidak ingin melibatkan masyarakat, sebab jika terjadi perang tentulah banyak korban yang berjatuhan.

"Kita atur siasat, malam ini seluruh keluarga harus keluar rumah." kata ayah Bujang Karatauan.

Sore itu, mereka mempersiapkan puluhan obor. Ketika malam tiba, mereka keluar dari rumah. Obor-obor dinyalakan, sehingga perhatian musuh terpancing dalam gelap gulita itu. Keluarga Bujang Alai mengejar obor-obor yang gemerlapan itu dengan kemarahan meluap.

"Lari….!" teriak ayah Bujang Karatauan memberi komando.
Pihak Bujang Kuratauan menghindarkan diri agar jangan terjadi bentrokan.
"Ayah ! Kita menuju ke mana ?" tanya Bujang Karatauan.
"Langsung ke Air Terjun Mandin Tangkaramin." jawab ayah Bujang Karatauan singkat.

Musuh terus mengejar Keluarga Bujang Karatauan dari belakang. Setelah sampai di puncak Air Terjun Mandin Tangkaramin, obor-obor itu mereka lemparkan ke bawah.

Keluarga Bujang Alai sama sekali tidak menduga jika mereka telah dijebak. Melihat nyala obor-obor itu, Keluarga Bujang Alai menduga musuh menyimpang jalan sambil berlari menyusuri lintasan. Mereka hanya berpatokan pada nyala obor yang dilemparkan.

Keluarga Bujang Alai pun langsung memintas menuju Obor. Jalan pintas yang mereka perkirakan memang tidak ada, kecuali jurang menganga sehingga mereka pun jatuh di atas bongkah batu. Darah mereka mengucur di batu-batu dan menjadikan batu-batu merah warnanya, semerah kulit manggis masak. Penduduk menyebutnya Batu Manggu Masak.

Demikianlah, kepongahan dan kesombongan anggota keluarga hendaknya jangan dibela secara membabi-buta karena akan merugikan seluruh keluarga itu sendiri.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Asal Mula Batu Manggu Masak – Legenda Kalimantan Selatan, yaitu jauhi sifat angkuh, merendahkan orang lain dan tinggi hati karena punya kelebihan, siap menolong siapa pun walaupun tidak kenal sama sekali, jangan bersikap sombong dan pongah apalagi sampai membela orang yang salah.
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Berlangganan via Email