Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Asal Mula Aksara Jawa – Aji Saka dan 2 Pengabdi Setia (Jawa Tengah)


Kisah Asal Mula Aksara Jawa – Aji Saka dan 2 Pengabdi Setia (Jawa Tengah)

Pada suatu hari, datanglah seorang pertapa yang masih muda bernama Aji Saka dari Hindustan. Aji Saka disertai dua orang abdinya pergi melawat ke Tanah Jawa. Ia bersama dua abdinya menjelajahi masuk ke kota dan desa. Kedatangan di Tanah Jawa bermaksud menyebarkan ilmu pengetahuan.

Suatu ketika, ia bersama kedua abdinya menuju ke Kerajaan Medang, tetapi dalam perjalanannya mereka bertiga singgah terlebih dahulu ke Pegunungan Kendeng. Aji Saka berkata kepada Sembada, abdinya.

Raden Aji Saka berkata  :
"Sembada ! Besok saya akan ke Medang, dan keris ajiku ini saya tinggalkan di sini. Kupercayakan, keris ajiku kepadamu. Siapa pun yang datang meminta, jangan kau berikan. Bila aku memerlukan, akan saya ambil sendiri. Ingatlah pesanku itu !"
Selesai berbicara, berangkatlah Aji Saka ke Negeri Medang dengan seorang diri. Sampailah Aji Saka di Negeri Medang, akhirnya dia tiba di desa terpencil. Ia bertamu ke rumah seorang janda tua bernama Mbok Rondo Sengkeran.

Ia bertanya kepada Mbok Rondo, "Apakah di sini Negeri Medang ?" Mbok Rondo menjawab : "Betul ! Tuan dari mana ? Dan, apa maksud gerangan Tuan datang di tempat ini ?"

Aji Saka menjawab : "Aku seorang kelana dari jauh. Aku datang di negeri ini hanyalah melihat-lihat keluhuran Negeri Medang. Apabila mungkin, aku ingin mengabdi kepada Sang Prabu.”

Si janda tua itu menjawab dengan nada cemas khawatir :
"Tuan, janganlah engkau mengabdi kepada Sang Prabu. Sebab Sang Prabu gemar memakan daging manusia. Lihatlah ! Tempat ini kosong, para penduduk banyak mengungsi karena takut. Saya ini masih hidup, karena usia saya sudah tua, daging saya sudah alot. Tuan pun kelihatannya masih muda jangan mendekati Sang Prabu, Tuan pasti akan dimakannya.”
Begitulah untuk sementara, Aji Saka tinggal menetap di rumah Mbok Rondo Sengkeran. Setiap hari, Sang Baginda menyantap daging manusia, dan setiap hari pula pekerjaan seorang patih Kerajaan Medang harus mencari seseorang sebagai persembahan mangsa kepada Baginda.

Aji Saka ternyata seorang yang sakti. Ketika para penduduk yang ketakutan berlari mengungsi, ia meminta para penduduk itu tinggal bersamanya di rumah Mbok Rondo Sengkeran.

Sekali lagi, Si Janda Tua tersebut mendesak dan mengingatkan kepada Aji Saka sambil berkata :
"Urungkanlah niatmu Tuan. Lebih baik tinggalkanlah di tempat ini !
Aji Saka menjawab :
"Mbok, kau tidak usah merisaukan keselamatan diriku ! Tolong antarkan aku ke rumah patih agar nanti diantar menghadap Sang Prabu."
Mbok Rondo Sengkeran segera mengantarkan Aji Saka untuk menghadap Patih. Di hadapan patih, Aji Saka mengutarakan maksudnya ingin mengabdi kepada Sang Prabu. Sang Patih melihat Aji Saka tertegun karena kesikapan baiknya. Memang Aji Saka seorang pemuda yang bijaksana lagi tampan, dalam benak Sang Patih, ia merasa menyayangkan bila Aji Saka diserahkan kepada Sang Prabu.

Sang Patih berkata : "Baiklah ! Engkau akan kuhadapkan kepada Sang Prabu. Engkau harus tahu tugasmu nanti, karena tidak mudah mengabdi kepada Sang Baginda Raja Medang."

Aji Saka menjawab :
"Hamba tidak gentar berhadapan dengan Sang Baginda ! Hamba tetap pada pendirian semula, yaitu akan mengabdi kepada Sang Prabu. Apabila hamba tidak mati, apakah hamba dapat minta hadiah sebidang tanah seluas sorban (ikat kapala) ini ?"
Sang Patih menyanggupi permintaan Aji Saka, lalu diajaklah Aji Saka menuju ke istana. Sewaktu makan bersama, Aji Saka mengubah dirinya menjadi seorang anak kecil yang cantik. Sang Prabu sangat senang melihatnya, dan dia segera menimang anaknya tadi.

Saat menimang tersebut, Sang Prabu bernafsu untuk melahapnya tetapi Aji Saka yang sakti dengan cekatan memegang bibir atas dan bibir bawah, lalu disobeklah mulut raja Medang hingga meninggal.

Setelah peristiwa tewasnya Sang Baginda, Aji Saka berubah wujud seperti semula. Aji Saka pergi ke rumah Patih untuk memberitahukan bahwa Sang Baginda telah mati terbunuh. Hati Sang Patih merasa senang setelah mendengar laporan Aji Saka.

Kemudian, Aji Saka menagih janji kepada Sang Patih. Ikat kepalanya dilepas dan dibentangkan di atas tanah. Ajaibnya, ternyata ikat kepala milik Aji Saka ini semakin melebar, meluas hingga meliputi desa dan kota, hutan, gunung, lembah ngarai. Akhirnya, seluruh kerajaan Medang ditandai akan menjadi miliknya.

Sang Patih tidak dapat berbuat apapun sesudah melihat peristiwa tersebut. Rakyat Medang akhirnya merasa lega, karena raja kanibal yang gemar memakan daging manusia telah tewas. Rakyat sangat berterima kasih kepada Aji Saka yang telah membebaskan rakyat dari kebengisan rajanya itu. Akhirnya, Aji Saka dinobatkan sebagai raja di Negeri Medang.

Penduduk awalnya yang mengungsi ke daerah lain mulai kembali ke rumah mereka masing-masing. Mereka bisa leluasa mengolah sawah, menanami ladang, sehingga negeri itu menjadi tempat yang ramai. Di bawah Pemerintahan Raja Aji Saka, Negeri Medang mengalami Masa Kejayaan dan rakyat hidup dengan aman dan tentram.

Teringatlah Aji Saka mengenai pusaka kerisnya. Kemudian, sang raja segera memanggil abdi setianya Dora sambil berkata : "Hai Dora, pergilah kau ke Pegunungan Kendeng ! Ambillah kerisku dan katakan bahwa aku sedang sibuk !"

Dora jawab dengan patuh : "Ya tuanku ! Hamba siap berangkat."

Pergilah Dora ke Pegunungan Kendeng. Sesampai di tempat, Dora memberi salam kepada Sembada dan keduanya asyik berdialog sambil melepaskan rindu. Kemudian, Dora menyampaikan maksud kedatangannya diutus Aji Saka untuk mengambil keris aji milik tuannya itu.

Mendengar maksud kedatangan Dora, Sembada menolaknya dengan tegas.

Sembada berkata dengan bersikeras :
"Pesan tuanku Aji Saka, bahwa keris aji ini tidak boleh diberikan kepada siapapun. Bila tuanku memerlukan, ia pasti akan datang sendiri ke tempat ini. Dan, lagi aku tidak boleh meninggalkan tempat ini sebelum tuanku datang !"
Demikianlah pula, Dora merasa bahwa ia mendapat tugas dari tuannya. Lagi pula, ia tidak mengada-ada sambil menyodorkan surat kuasa ke hadapan teman baiknya itu.

"Aku membawa surat kuasa bukti perintah Baginda.” kata Dora.
"Aku tak peduli, aku tetap berpendirian bahwa pesan dan amanat Baginda Aji Saka kepadaku harus kupegang teguh, bahwa siapapun tak berhak mengambil keris pusaka milik Baginda kecuali Baginda sendiri," ucap Sembada.
"Aduh Kakang Sembada, rasanya aku terpaksa menggunakan jalan kekerasan."
"Aku tidak menyalahkanmu Dora, aku tetap akan mempertahankan pusaka ini."

Kedua abdi tersebut saling mempertahankan perintah Aji Saka, keduanya tidak mau mengalah. Akhirnya, terjadilah baku hantam di antara kedua abdinya tersebut. Dora dan Sembada saling adu kekuatan, adu kepandaian, dan adu kesaktian. Memang, sebenarnya kedua abdi tersebut sama-sama sakti dan sama-sama unggul.

Adu kesaktian kedua abdi itu mengakibatkan keduanya tewas. Mereka masing-masing mempertahankan perintah tuannya. Menurut mereka, dia lebih baik mati daripada mengkhianati perintah tuannya.

Utusan Aji Saka lama tak datang sehingga membuat Aji Saka khawatir dan cemas menanti kedatangan abdi yang setianya itu, Dora dan Sembada tak kunjung datang.

Akhirnya, Aji Saka meninggalkan istana pergi ke Pegunungan Kendeng untuk menyusul Dora dan Sembada. Setelah sampai di pegunungan Kendeng, terkejutlah Aji Saka melihat mayat Dora dan Sembada tergeletak di tanah.

Ingatlah Aji Saka terhadap apa yang pernah dipesankan pada Sembada. Dora dan Sembada adalah kedua abdi kesayangannya sudah tewas demi tugas yang diembannya. Kematian mereka berdua sebagai bukti kesetiaan dan kepatuhan terhadap tuannya.

Dengan kematian dua abdi setia itu, Aji Saka menciptakan huruf-huruf untuk mengabadikan kesetiaan dua abdi dalam melaksanakan tugas. Huruf Jawa tersebut dikenal dengan sebutan Carakan.
Susunan huruf Jawa tersebut sebagai berikut :

Hana ca ra ka - Da ta sa wa la - Pa dha ja ya nya - Ma ga ba tha nga
  • Hana caraka = Ada utusan,
  • Data sawala = Pada bertengkar
  • Padha jayanya = Sama saktinya
  • Maga bathanga = Mati bersama
Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Asal Mula Aksara Jawa – Aji Saka dan 2 Pengabdi Setia (Jawa Tengah), yaitu kesetiaan memegang amanah, jangan pernah lupa terhadap pesan amanat yang disampaikan sendiri, memberantas kejahatan dan kezhaliman, kuat, tangkas dan cerdas, menghormati dan membantu orang tua.
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Berlangganan via Email