Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Legenda Sang Pangeran Ivan dan Serigala (Rusia)


Legenda Sang Pangeran Ivan dan Serigala (Rusia)

Dahulu di Rusia, ada seorang raja kaya raya dan sangat berkuasa. Kebun Istana sang Raja dikelilingi pohon dan bunga indah. Di antara sekian banyak kekayaannya, yang dibanggakan adalah pohon yang berbuah apel emas. Raja setiap hari pergi melihat dan memeriksa keadaannya.

Pada suatu hari, sebuah apel hilang. Hari berikutnya, apel lainnya juga ikut hilang lagi. Ketika apel ketiga hilang juga, Raja menjadi marah. Ia menyuruh orang-orang berjaga, tetapi tak ada yang bisa menemukannya siapa pencurinya.

Raja mempunyai tiga orang putra. Yang pertama bernama Peter, kedua bernama Vassily, dan ketiga bernama Ivan. Suatu hari, Raja memanggil ketiga putranya. “Ada seseorang yang mencuri ketiga apel emasku,” kata Raja. “Dan, aku telah memutuskan barang siapa yang bisa menangkap si pencuri, ia akan kuberi separo kerajaanku.”

Putra pertama maju, “Aku akan berusaha, Ayah, aku akan mencoba lebih dahulu. Aku akan berjaga di kebun malam ini.” Peter, putra pertama pergi ke kebun untuk berjaga di dekat pohon apel emas. Ia berusaha untuk tidak tidur, tetapi di tengah malam rasa kantuk menyerangnya dengan sangat. Ia tertidur. Esoknya, ketika bangun tidur ia baru sadar bahwa sebuah apel telah dicuri orang lagi.

Raja kecewa sekali mendengar laporan putra pertamanya itu. Vassily, putra kedua giliran berjaga, tapi nasibnya tak jauh beda dengan Peter. Ia tertidur dan tidak tahu-menahu sebuah apel lenyap lagi dari pohon. Ivan, putra bungsu maju menghadap ayahnya, “Ayah, saya akan berjaga malam nanti.”

Sang Raja tidak terlalu berharap  banyak pada putra bungsunya. “Pergilah kalau kau mau, paling-paling kau akan gagal seperti kakak-kakakmu.” Malam hari, Ivan berdiri di samping pohon apel. Ia bertekad untuk tidak akan duduk, ia berjalan mengelilingi pohon itu berjam-jam. Jika ia mengantuk, segera cepat-cepat membasuh matanya dengan embun sehingga ia terus terjaga.

Usahanya berhasil, suatu ketika ia melihat kilatan cahaya emas, makin lama makin terlihat jelas bahwa cahaya itu ternyata berasal dari seekor burung yang bulunya berkilauan. Burung itu terbang menuju pohon apel emas. Diam-diam, Ivan mengawasi makhluk ajaib ini. Ketika burung itu mulai mematuk apel emas dengan paruh yang berbentuk permata, Ivan merangkak ke arah burung itu dan menyergap ekornya.

Si burung ajaib kaget dan berusaha melepaskan diri, usahanya berhasil tapi ada bulu berkilau yang tertinggal di tangan Ivan. Pagi harinya, Ivan membawa bulu burung itu kepada ayahnya. Ayahnya merasa senang, “Pasti burung emas ! dan harganya pasti jauh lebih berharga dari apel emas.”

Pada suatu hari, Raja memanggil putra-putranya. “Kalian harus mencari Burung Emas untukku, jangan lupa, yang berhasil akan memiliki separo kerajaanku.” Peter dan Vassily menyiapkan kudanya dan segera berangkat, tetapi Raja masih mengatakan kepada Ivan, bahwa ia masih terlalu kecil untuk mengembara.

Ivan kecewa dan sedih, ia memohon dan mengingatkan ayahnya, bahwa ia telah melihat burung itu sementara kedua kakaknya sama sekali tidak mengetahuinya. Akhirnya, Raja setuju.

Ivan mengenakan baju perang, lalu berangkat ke hutan. Setelah berhari-hari, ia sampai ke sebuah batu besar. Ia naik untuk membaca pesan yang dituliskan di batu itu.

“Jika kau terus kau akan kelaparan. Belok kiri, kau akan mati terkapar. Belok kanan kudamu akan hilang.” Ivan berpikir keras, kemudian memutuskan untuk mengambil jalan ke kanan. Ia telah menunggang kuda sepanjang hari, ketika tiba-tiba seekor serigala besar berwarna kelabu muncul dari semak.

Serigala itu melompat ke tubuh Ivan, membuat pemuda itu jatuh dari kudanya. Si kuda yang ketakutan berlari cepat masuk ke hutan. “Kau membaca pesan di batu itu !” seru serigala sambil berlari menjauh. Ivan terbengong-bengong keheranan melihat serigala bisa berbicara.

Ivan segera bangkit, kini ia harus berjalan kaki. Ia sangat letih, dan hampir putus asa. “Sepertinya aku tak akan menemukan Si Burung Emas.” Setelah tak tertahan lagi lelahnya, ia duduk beristirahat, tiba-tiba serigala itu muncul lagi,

“Maaf, aku mengejutkan kudamu. Tetapi, kau telah melihat pesan di batu itu. Kalau kau kelelahan, katakan kau mau kemana dan aku akan mengantarmu pergi.”
“Aku mencari Si Burung Emas,” jawab Ivan.
“Hanya aku yang tahu tempat tinggal Burung Emas. Ia milik Raja Afron,” kata serigala.
“Naiklah ke punggungku, aku akan membawamu ke sana.”

Begitu Ivan naik, serigala itu berlari kencang menembus hutan dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka tiba di tembok batu tinggi.

“Burung itu akan kau temukan di sana,” kata serigala, “Tetapi, hati-hati. Apapun yang kau lakukan, kau tak boleh menyentuh sangkarnya.”  Ivan memanjat tembok, dan memang benar ternyata ada seekor burung emas yang terdapat di dalam sangkar emas. Namun, ia lupa dengan pesan serigala dan menyentuh sangkar emas itu.

Seketika lonceng-lonceng itu langsung berbunyi, dan para penjaga berlarian dari segala penjuru. “Berhenti ! Kembalikan burung itu !” teriak para penjaga ketika Ivan berbalik untuk lari. Ivan tak berkutik, ia ditangkap dan dibawa menghadap Raja Afron. “Mengapa kau ingin mencuri burungku ?” kata Raja Afron dengan murka.

Ivan merasa malu, “Tuanku, Burung Emas milik Tuanku kepadaku dan bukan mencurinya ?” tanya Raja Afron. Raja Afron menatap tajam ke arah Ivan yang merasa sangat malu. “Sekarang begini saja. Aku bisa melupakan perbuatanmu kalau kau mau melakukan sesuatu untukku. Di kerajaan tetangga, ada kuda bersurai emas. Bawa dia kepadaku dan aku memberikan Burung Emas kepadamu.”

Ivan setuju dan ia dilepaskan. Ia segera menemui serigala kelabu yang menunggu di luar tembok. “Sudah kubilang jangan menyentuh sangkarnya. Tapi, mari akan kubawa kau ke kerajaan tetangga.” kata Serigala.

Dengan cepat, serigala membawa Ivan menerobos hutan melalui jurang dan akhirnya, mereka sampai di halaman sebuah pura yang besar. “Pergilah diam-diam,” kata Serigala. “Kudanya ada di sana, tetapi kau tak boleh menyentuh tali kekangnya.”

Ivan berjingkat-jingkat mendekati kandang, ia bisa mendengar tukang kuda yang sedang berbicara di balik pintu.  Ia melihat seekor kuda bagus yang bersurai emas. Ivan berpikir, bagaimana  ia bisa menuntunnya keluar kandang. Ia melihat, kekang tergantung di dinding. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera ambil tali kekang itu dan mengalungkannya ke leher kuda.

Namun, tiba-tiba saja terjadi keributan, para nelayan dengan marah langsung mengelilingi Ivan. “Anak muda kami akan menghukum kamu !” Ivan dibawa ke hadapan Raja Kusman yang memandangnya dengan marah. “Dari pakaianmu sepertinya kau seorang pangeran, tapi mengapa kau datang mencuri kudaku.”

Ivan menundukan mukanya karena malu. Lalu, Raja Kusman meneruskan ucapannya. “Harus kukatakan kepada semua orang bahwa perbuatanmu sangat tidak terhormat, tetapi mungkin kau bisa menolongku.” Ivan menatap mukanya dengan penuh harapan.

“Di kerajaan sana, ada seorang putri yang cantik, namanya Helena,” kata Raja Kusman. “Aku sangat mencintainya. Bawa dia kepadaku dan aku akan mengampunimu.” Ivan berkata, “Baik tuanku, saya akan berusaha.” Maka Raja Kusman melepaskannya, Ivan segera menemui serigala kelabu dan menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.

Serigala kelabu mengeluh atas kecerobohan Ivan, tapi ia memaafkannya dan segera membawa Ivan menembus hutan untuk mencari Putri Helena. Setelah menempuh perjalanan jauh, sampailah mereka di sebuah istana yang megah, itulah Istana Raja Dolmat. Supaya tidak terjadi kesalahan kesekian kalinya, kali ini serigala yang bertugas, sementara Ivan menunggu di dekat Pohon Ek.

Kini serigala masuk ke dalam Istana dan bersembunyi di kebun istana. Beberapa saat kemudian, Helena telah keluar bersamaan dengan iringan pelayan wanitanya sambil berjalan-jalan di antara bunga-bunga. Pada saat yang tepat, serigala kelabu segera keluar dan menangkap sang putri, lalu dibawa lari ke arah Ivan yang menunggu di bawah Pohon Ek.

“Cepat !” kata serigala. Ivan segera melompat di belakang Helena dan serigala itu berlari kencang. Terdengar teriakan-teriakan marah dari Istana, dan suara-suara penunggang kuda yang lari mengejar si penculiknya. Tetapi para penunggang kuda itu sayangnya tidak mampu mengejar lari si serigala yang kecepatannya bagaikan angin.

Ivan dan Helena berangkulan di punggung serigala. Sepanjang hari, ia berlari lewat hutan dengan maksud kembali ke Istana Raja Kusman. Ivan pemuda tampan, Helena gadis yang sangat cantik, segera saja, mereka saling jatuh cinta. Ketika mendekati istana Raja Kusman, wajah Ivan nampak sedih. Serigala kelabu merasa ada yang tidak beres, maka ia menghentikan langkahnya.

“Ada apa Ivan, kenapa kau sedih ?”
“Aduh…. Aku tak mampu berpisah dengan Helena, aku sangat mencintainya dan ia juga mencintaiku.”
“Oh begitu masalahnya.”

Tanpa banyak bicara serigala merubah dirinya menjadi gadis cantik persis dengan Helena. Ya dengan kesaktiaannya serigala telah menyamar menjadi Helena. “Sekarang,” kata serigala. “Tinggalkan Helena asli di tepi hutan ini, antarkan aku ke istana Raja Kusman. Jika kau teringat kepadaku, maka aku akan berubah lagi menjadi serigala dan kembali kepadamu.”

Kini, Ivan mengantarkan Helena jelmaan serigala ke Istana Raja Kusman. Raja Kusman sangat senang dan dengan gembira, ia memberikan kuda bersurai emas kepada Ivan. Ivan segera membawa kuda itu ke tepi hutan menemui Helena.

Ivan dan Helena berboncengan di atas kuda bersurai emas menuju Istana Raja Afron, untuk mendapatkan Burung Emas. Saat itu, di Istana Raja Kusman berlangsung pesta pelaksanaan pernikahan Raja dengan Helena palsu.

Ketika Raja Kusman hendak mencium pipi pengantinnya yang cantik, tapi pada saat itu Ivan teringat pada serigala kelabu, maka pada saat itu juga Helena palsu berubah menjadi seekor serigala, semua orang terkejut, pesta menjadi geger, maka serigala dengan leluasa dapat meloloskan diri, ia segera bergabung dengan Ivan dan Helena. 

Ivan berkata, “Tinggal satu yang kita lakukan, yaitu menukar kuda bersurai emas dengan burung emas. Tetapi, aku tak mau kehilangan kuda yang sangat indah ini. Sahabatku, kalau kau mampu merubah dirimu menjadi Helena tentunya kau juga mampu merubah dirimu menjadi kuda.”

Serigala berpikir sejenak, ia mulai menyukai Ivan dan Helena. Maka, ia bersedia menolong dan mengabulkan permintaan Ivan. Dalam sekejap, ia telah merubah dirinya menjadi seekor kuda persis dengan kuda yang ditunggangi Ivan.

“Kalau kau teringat padaku lagi, maka aku akan kembali kepadamu.” Kata serigala
Ivan sangat lega, ketika mendekati istana Raja Afron. Ia meninggalkan Helena bersama kuda asli. Lalu, ia menuntun kuda palsu jelmaan serigala. Raja Afron sangat gembira melihat kuda bersurai emas itu, dan dengan senang hati ia memberikan Burung Emas kepada Ivan.

Setelah Ivan membawa Burung Emas, ia kembali menemui Helena dan mengajak gadis itu menuju Istana Kerajaan ayahnya. Dalam perjalanan, tiba-tiba teringat pada serigala kelabu. Pada saat itu, Raja Afron sedang berburu menunggang kuda bersurai emas. Ia terkejut, ketika kuda yang bagus itu tiba-tiba berubah menjadi serigala yang segera berlari menghilang.

Lengkap sudah apa yang dicari dan dimiliki oleh Ivan berkat pertolongan serigala, ia telah mendapatkan Burung Emas, Kuda bersurau emas dan Helena yang cantik jelita. Serigala kelabu telah menyusul dan berlari di samping, hingga mereka tiba di tempat serigala yang dulu menyerang kuda Ivan.

Serigala kelabu, tiba-tiba berhenti. “Tugasku telah selesai,” katanya. “Sekarang aku harus meninggalkanmu.” Ivan sangat sedih harus berpisah dengan sahabatnya yang setia. Kemudian, Ivan meneruskan perjalanan pulang. Jarak masih sangat jauh dan udara panas. Mereka merasa kelelahan dan harus istirahat. Ivan mengikat kudanya dan mereka berbaring di rumput, lalu segera tertidur.

Pada saat itulah, dua kakaknya tiba di sana. Mereka telah lama mencari Burung Emas, tetapi tentu saja tidak menemukanny. Peter membisikkan rencana jahat pada Vassily, keduanya saling pandang namun kemudian saling mengangguk.

Peter mencabut pedangnya dan membunuh Ivan. Helena kaget dan terbangun, namun Vassily menodongkan ujung pedang ke lehernya. “Kau juga akan mati konyol jika buka mulut pada ayah kami.” Helena yang malang tak bisa berbuat apa-apa. Vassily menaikkannya ke punggung kuda bersurai emas dan dua saudara yang jahat itu mengiringinya ke istana ayah mereka.

Ivan terbaring mati di hutan dan burung-burung gagak muda berkerumun di sekitar tubuhnya. Beberapa hari kemudian, serigala kelabu datang dan segera menangkap salah seekor anak burung gagak muda itu, dan ibu burung gagak itu terbang turun memohon agar nyawa anaknya diselamatkan.

“Aku akan menyelamatkan anakmu kalau kau mau melakukan sesuatu untukku, terbanglah ke atas gunung dan ambilkan untukku Air Kehidupan.” kata serigala kelabu. Ibu gagak yang panik itu setuju dan segera terbang. Ia kembali dengan sedikit air di paruhnya. Segera saja serigala kelabu memercikkan Air Kehidupan ke atas tubuh Ivan. Beberapa saat kemudian, Ivan terbangun dengan keadaan segar bugar. “Apa yang telah terjadi ?”

“Naiklah ke punggungku,” kata serigala sambil menuju istana, serigala menceritakan apa yang menimpa diri Ivan. Ketika Ivan dan serigala itu mendekati istana ayahnya, ia melihat bendera-bendera berkibar, dan masyarakat dengan pakaian yang bagus-bagus berbondong-bondong menuju pintu gerbang.

“Hari ini Vassily akan dinikahkan dengan Helena, sedangkan Peter akan menerima separo dari kerajaan ayahmu.” ucap serigala. Ivan bergegas menuju istana. Di sana, Helena berdiri dengan pakaian pengantin. Begitu melihat Ivan, Helena berlari menghambur ke dada kekasihnya itu. Sementara, Vassily dan Peter tampak berwajah pucat.

Dengan bijak, sang raja mendengar penjelasan Ivan.

“Benerkah kalian melakukan perbuatan sekeji itu terhadap adik kalian sendiri?”
“Dia bohong ayahanda !” seru Peter.
“Tidak, hamba mengetahui dengan mata kepala sendiri akan perbuatan jahat mereka berdua” sergah Helena.
Ivan berkata, “Serigala ini juga menjadi saksinya, jika kalian tetap mungkir/menyangkal. Serigala ini akan mencabik-cabik tubuh kalian sampai habis !”
“Tid….tidaaakkkk….! Kami memang bersalah….!” ujar kedua saudara itu ketakutan.

Raja segera mengusir dua saudara yang keji itu, sementara Ivan mendapat separo kerajaan ayahnya dan dinikahkan dengan Helena yang cantik jelita.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Legenda Pangeran Ivan dan Serigala, yaitu jangan memandang remeh sama sekali ke orang lain, jangan bertindak ceroboh apalagi mengulanginya kembali, jangan sekali-kali tergiur dengan kehidupan nafsu yang fana ini dapat membutakan mata hati, jangan mencelakai orang lain apalagi saudara kandung sendiri, pentingnya mempunyai sahabat yang setia, berani ambil keputusan yang beresiko dan bertanggung jawab, bersikap cerdik, dan orang yang berbuat buruk pasti akan mendapat balasan yang buruk juga.

Semoga kisah dongeng di atas bisa membantu kamu terkait pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.


Sumber : Buku "Kumpulan Dongeng Anak Sedunia" karangan MB. Rahimsyah AR.

Berlangganan via Email