Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Legenda Hercules Manusia Perkasa dan Perjalanan Perjuangannya (Romawi)


Legenda Hercules Manusia Perkasa dan Perjalanan Perjuangannya (Romawi)

Dari Ratu Alcmena yang cantik bersama Yupiter, lahirlah seorang bayi laki-laki di Kota Thebes yang diberi nama Hercules. Anak itu amat dicintai oleh Yupiter, maka ia menetapkan untuk menjadikannya seorang makhluk yang sempurna.

Dewi Juno, ibu tiri Hercules yang bengis ini merasa iri kepada bayi tersebut, sehingga ia tega mengirimkan ular raksasa agar membelitnya sampai mati ketika bayi itu berada dalam buaian. Tetapi, ketika bayi itu melihat ular utusan Dewi Juno, Hercules kecil bangkit dan menghadapi mereka dengan berani. Ia mencekik kedua ular itu hingga binasa.

Hercules begitu kuat, dan sayangnya dia agak angkuh serta mudah marah, sehingga Dewi Juno tak henti-hentinya menggunakan kelemahan Hercules untuk membangkitkan kemarahannya.

Pada suatu hari, terjadilah satu peristiwa yang sangat menyedihkan. Ketika Hercules melemparkan kecapi kepada gurunya, naas kecapi itu mengenai kepala sang guru hingga membuatnya tewas.

Dengan penuh duka cita, Ratu Alcmeina terpaksa harus menghukum anaknya. Kemudian, Hercules dibuang dari istana dan dipercayakan kepada seorang penggembala yang hidup di gunung-gunung.
Hercules bukannya menyesal dengan hukuman yang diterimanya, ia justru merasa bahagia. Ia belajar berburu, memanah, dan tidak takut terhadap kegelapan malam, dingin yang mencekam, maupun binatang luas.

Dalam petualangannya, pada suatu hari Hercules bertemu dengan dua orang gadis di suatu persimpangan jalan. Rupanya, kedua gadis itu memang sedang menantikan dirinya.

“Hercules, aku adalah Sang Sukacita, datang dan berjalanlah di jalanku yang terbuat dari rumput lembut dan aneka bunga yang pada ujungnya ada kekayaan dan kebahagiaan,” kata salah satu gadis dari mereka berdua sambil tersenyum dengan paras wajah yang cantik dan lebih muda.

“Hercules, aku adalah Sang Keutamaan. Datanglah dan berjalanlah di jalanku yang terbuat dari batu dan kerikil tajam, pada ujungnya ada kemuliaan yang tak akan pernah pudar.” kata gadis yang sudah tak muda dan tak cantik pula tanpa ada senyum sekali di bibirnya.

“Aku ikut denganmu,” sahut Hercules kepada Sang Kautamaan.

Sungguh amat sulit jalan Hercules menuju kemuliaan. Di saat sedang marah, Dewi Juno membuat mata Hercules berkilat-kilat membara. Sehingga suatu ketika Hercules marahnya sedang meledak-ledak hingga tega membunuh istrinya beserta kedua anaknya.

Setelah kemarahannya mereda, Hercules menjadi menyesal dan sedih sekali, ia menangis tetapi Para Dewa sangat marah karena perbuatan Hercules yang bodoh itu.

Oleh karena itu, Hercules memohon pengampunan atas kesalahan yang sudah dilakukannya kepada Para Dewa. Kemudian, Hercules pergi menuju Kota Delphi, dan di sana ia bertemu dengan seorang Imam Wanita, namanya Pitia yang artinya Kepercayaan. Imam Wanita itu dapat meramalkan masa yang akan datang.

“Hercules, pergilah ke Kota Tyrin. Abdikanlah dirimu kepada Raja Eurystheus, pamanmu yang akan meletakkan di atas pundakmu dengan 12 penderitaan dan kesusahan. Kalau kau dapat mengatasi dan menyelesaikan semuanya, kau akan mendapat pengampunan dari Para Dewa,” kata Pitia.

Atas petunjuk Pitia, Hercules segera berangkat dan memulai perjalanannya. Ketika memasuki Istana Tiryn, Raja Eurytheus yang memiliki sifat pemalu dan penakut ini merasa ketakutan ketika dia melihat kedatangan Hercules.

“Aku datang untuk mengabdikan diri kepadamu,” ujar Hercules menenangkan Raja Eurytheus.

“Jika demikian, pergilah kau ke hutan Nemea. Di hutan itu, ada singa yang menghabiskan domba-domba dan mencabik-cabik para penggembala. Bunuhlah singa itu dan bawalah kulitnya padaku,” perintah Raja Eurytheus dengan maksud agar berhasil menjauhkan Hercules sebisa mungkin dan tidak akan datang kembali lagi.

“Perintahmu akan kulaksanakan,” jawab Hercules.

Kemudian, pergilah Hercules menuju Hutan Nemea. Seorang penduduk daerah itu berkata kepadanya, “Tidak tahukah kau bahwa singa itu tak dapat dilukai, karena kulitnya keras seperti besi baja ?”

“Aku tak takut akan hal itu,” jawab Hercules.

Kemudian, Hercules masuk ke dalam hutan dan bersegera siap-siap menghadapinya saat dia melihatnya. Melihat di depan mangsanya, singa itu langsung melompat menghadang Hercules. Dengan cepat Hercules menyerang dan menghantamnya dengan tangan kosong, lalu ia dengan cepat pula segera mencekik singa itu hingga menemui ajalnya.

Setelah membunuh dan mengkuliti singa itu. Hercules membawa kulitnya kepada Raja Eurystheus.
“Sekarang, pergilah menghadapi Hydra dari Lerna, seekor binatang mengerikan berkepala tujuh.

Dengan semburan nafasnya yang beracun telah membunuh banyak orang. Bunuhlah binatang itu !” kata Raja Eurystheus saat menerima kulit singa itu di tangannya. Ia langsung memberikan tugas kedua selanjutnya kepada Hercules.

Maka, pergilah Hercules dengan ditemani oleh Iolaus, sahabat karibnya. Ketika mereka sampai di danau daerah Lerna, Hercules mencium dan merasakan suasana kematian, serta keheningan yang amat mencengkam. Hydra tak kelihatan.

Hercules melemparkan sebongkah batu ke danau dan menyalakan obor sambil berteriak, ia berhasil mengusik binatang itu. Tiba-tiba, air danau bergolak berpusar dan Hydra menyembul dengan cepat sambil mulutnya menyemburkan racun ke arah Hercules dan Iolaus. Hercules menebaskan pedangnya ke kepala Hydra, tetapi dari setiap  kepala yang berhasil ditebas segera tumbuh lagi dua kepala.

“Iolaus ! Ambillah obor, setelah kupenggal salah satu kepalanya segera bakar lukanya !” teriak Hercules.

“Ya…..,” jawab Iolaus yang gemetar karena ketakutan. Dengan cepat, ia melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, dicocokkan obornya pada leher Hydra yang terpenggal, maka kepala binatang itu tidak tumbuh lagi. Akhirnya, Hydra binasa.

Sebelum kembali ke Tyrin, Hercules mencelupkan ujung-ujung anak panahnya ke darah binatang itu, dan dengan demikian ia memberi racun semua anak panahnya.

Raja Eurystheus sebenarnya tidak mengharap Hercules kembali dengan selamat. Begitu Hercules datang, ia sudah menyiapkan tugas yang berikutnya. Kepadanya diperintahkan agar menangkap Babi Hutan Erymanthus, seekor binatang yang amat besar dan sering menculik penduduk, kemudian membunuhnya.

Ketika menghadapi binatang itu, Hercules merasa tidak takut. Saat binatang itu menyerang, ia dengan cepat meloncat menghindar. Tiba-tiba, babi hutan itu melarikan diri, Hercules segera menyergap dan menangkapnya.

Dipanggulnya binatang itu dan dibawa kepada Raja Eurytheus yang karena amat ketakutan kepadanya, lari dan menyembunyikan diri di dalam tong besar.

Perintah berikutnya yang harus dilaksanakan Hercules adalah menangkap Ceryneia yang dikeramatkan bagi Diana. Ceryneia, adalah seekor rusa betina dengan tanduk emas dan kuku perak yang dapat lari dengan kecepatan seperti angin.

Binatang itu tak mengenal lelah, setelah berjuang hampir setahun, Hercules akhirnya berhasil menangkapnya.

Perintah kelima yang harus dilaksanakan oleh Hercules ialah mengusir dan membunuh burung-burung raksasa. Burung-burung itu memiliki paruh, sayap, dan bulu dari tembaga, bulu-bulunya tajam seperti anak panah. Burung-burung itu menguasai Danau Tymphalus dan melakukan pembunuhan terhadap manusia.

Hercules tak merasa gentar dan ragu, ia mengobrak-abrik dan membuat burung-burung itu keluar dari sarangnya. Hercules berhasil membunuh sejumlah besar burung itu dengan anak panahnya yang telah diberi racun ujungnya dengan darah Hydra. Burung-burung yang lain terbang melarikan diri, karena peluit Hercules yang diterima dari Dewi Minerva sebagai hadiah.

Tugas selanjutnya, adalah perintah yang keenam bagi Hercules, ia harus merebut ikat pinggang Hyppolita, Ratu Penguasa Amazon yang memiliki bala tentara wanita. Ikat dari emas dan bertabur manikam. Hercules dengan beberapa temannya setelah tiba di Istana Amazon langsung menghadap Ratu Hyppolita, dan Hercules dengan amat halus serta sopan memohon agar ikat pinggang itu dihadiahkan kepada dirinya.

Begitu mulia Ratu Hyppolita yang cantik itu, ia menyetujui memberikan ikat pinggangnya, tetapi saat sabuk itu akan diberikan kepada Hercules, muncullah Dewi Juno dengan menyamar sebagai salah seorang prajurit wanita Amazon, ia berteriak mengatakan bahwa Hercules hendak merampok Sang Ratu.

Mendengar itu, para prajurit wanita Amazon berdatangan dan menyerang Hercules beserta kawan-kawannya. Dalam pertempuran itu, salah satu anak panah Hercules mengenai dan membunuh Hyppolita. Hercules menjadi terkejut sambil memeluk tubuh Hyppolita yang sudah menjadi mayat, ia menangis dan menyesali kejadian itu.

Eurytheus sangat gembira dapat memiliki ikat pinggang Hyppolita. Kemudian, ia memberi perintah selanjutnya dan tugas ketujuh ini harus segera dilaksanakan oleh Hercules yaitu harus sanggup membersihkan kandang ternak Raja Aegeas dalam kurun satu hari.

Raja itu memiliki beribu-ribu sapi yang merumput di berbagai bidang. Setiap hari, binatang-binatang itu kembali ke kandang yang luar biasa besarnya, dan selama 30 tahun belum pernah dibersihkan sama sekali.     

Dalam kandang-kandang itu telah menumpuk kotoran tak terkirakan banyaknya, dan dihuni bermacam-macam dengan ulat menjijikkan serta lalat. Dari kandang itu merebak bau busuk yang menusuk dan tak tertahankan. Membersihkannya dalam satu hari, adalah pekerjaan mustahil, tetapi Hercules menyanggupinya.

Di dekat kandang itu mengalir 2 sungai besar. Dari bukit-bukit di sekitarnya, dia membuat bendungan untuk mengalihkan aliran sungai itu melewati antara kandang-kandang, dengan demikian aliran sungai itu menghanyutkan semua kotoran yang ada di dalamnya.

Melihat hal itu, Eurytheus merasa putus asa dan mulai berpikir bahwa dirinya tak akan pernah berhasil membebaskan diri dari bayangan Hercules.

Dengan susah payah, Hercules telah menyelesaikan semua ketujuh perintah Raja Eurytheus. Tugas kedelapan, adalah menangkap kuda-kuda betina Raja Diomedes, yaitu kuda buas yang mengerikan dapat menyemburkan kilat-kilat api dari lubang hidungnya dan memakan daging manusia.

Dan selanjutnya, Hercules harus menangkap Banteng Creta, yang telah menghancurkan semua padang rumput dan membantai domba-domba gembala di pulau itu, serta menangkap banteng-banteng merah milik Geryon, binatang raksasa dengan 2 kaki, 3 badan, 3 kepala, dan 6 lengan.

Hercules berhasil menangkap semua binatang itu dan membawanya kepada Raja Eurytheus.
“Hercules, keponakanku….., kau tahu bahwa jauh di barat sana ada sebuah pulau. Di sana, Para Hesperindes menjaga apel emas yang dikeramatkan bagi Yupiter. Kendati demikian, aku menginginkan sebagian dari buah apel emas itu,” kata Eurytheus.

Tanpa banyak kata, Hercules segera berangkat untuk menunaikan tugas itu. Setelah melakukan perjalanan yang amat jauh, Hercules sampai di pulau Para Hesperindes dan berhasil mencuri sebagian dari apel emas itu, kemudian menyerahkannya kepada Eurytheus, pamannya.

Raja Eurytheus akhirnya memberikan tugas yang terakhir, yaitu untuk menangkap Cerberus, seekor anjing yang dapat menggonggong dengan 3 kepala, yang menjaga gapura Kerajaan Maut. 

Apa yang dilakukan oleh Hercules dirasa tak pantas mencuri Cerberus dari tuannya Pluto, saudara Yupiter. Oleh karena itu, ia menghadap Pluto dan dengan rendah hati minta izin untuk mengambil anjing itu. Pluto tahu bagaimana sang pahlawan mesti diampuni.

“Baiklah, pergi sana, tapi waspadalah kau harus menghadapinya sendiri tanpa senjata,” jawab Pluto.
“Terima kasih Sang Raja,” kata Hercules.

Hanya dengan tangan kosong Hercules menghadapi Cerberus yang mempertahankan diri dengan sia-sia. Ketika ia berhasil menangkap bagian pangkal ketiga lehernya, Cerberus akhirnya menyerah. Kemudian, binatang itu mengikuti Hercules dengan patuh, dan pergi menghadap Eurytheus.

Ketika melihat kedatangan anjing dari Kerajaan Maut itu, Raja Eurytheus berteriak ketakutan. “Bawa pergi binatang itu, Hercules ! Pergilah, dan jangan pernah kembali lagi…..!”

Setelah menyelesaikan kedua belas tugas itu dengan susah payah, Hercules mendapat pengampunan dari para dewa. Lalu, meninggalkan Tiryn dan mulai mengembara di dunia. Ia melakukan beratus-ratus petualangan dengan mengalahkan binatang-binatang buas, menghukum orang-orang jahat, dan membantu yang lemah.

Akhirnya, Hercules sampai di Istana Aetolia, dari jatuh cinta kepada seorang gadis cantik putri dari seorang Raja Deianira, tetapi sang putri telah ditunangkan dengan Anchelous, seorang tukang sihir raksasa yang mampu beralih rupa menjadi seekor ular, banteng, bahkan menjadi manusia berkepala kambing.

“Aku tak takut, baik terhadap ular, banteng, atau kambing,” kata Hercules. Kemudian, ia menjumpai Anchelous dan mengatakan bahwa dirinya hendak memperistri Deianira. Dengan tiba-tiba, Anchelous berubah menjadi banteng dan menyerang Hercules. Dengan cekatan, Hercules berhasil merenggut dan mematahkan salah satu tanduknya, Anchelous. Kemudian, dia berubah menjadi manusia lagi.

“Cukup, kau telah mengalahkan aku. Ambillah gadis itu,” katanya.

Dengan demikian, Hercules memperistri Deianira, dan mereka mengembara sambil mengikuti nasibnya ke seluruh daerah. Mereka berdua menghadapi setiap jenis petualangan yang indah, namun sayangnya hal itu tidak berlangsung lama.

Suatu ketika, mereka berdua diharuskan mengarungi Sungai Euenas yang besar dan meluap airnya, Hercules minta bantuan kepada Nessus, seekor Centaurus, makhluk setengah kuda dan setengah manusia.

“Dengan senang hati, Hercules. Aku akan membawa istrimu ke seberang sungai.” Jawab Nessus. Kemudian, dia menaikkan Deianira ke atas punggungnya, dan segera melarikannya dengan tujuan hendak memperkosanya.

Mendengar teriakan istrinya, Hercules langsung membidikkan anak panah beracunnya dan tepat mengenai tubuh Nessus.

“Deianira, aku merasa bahwa kematian telah mendekatiku. Aku sebenarnya tidak ingin menistaimu, tetapi hanya ingin menunjukkan cintaku kepadamu. Untuk mendapatkan pengampunanmu, aku ingin memberitahukan bahwa dengan darahku ini, kau dapat membuat ramuan ajaib. Bila suatu hari, Hercules nanti tidak lagi mencintaimu, suruhlah ia mengenakan jubah yang kau celupkan dalam ramuan itu. Ia akan mencintaimu kembali lebih daripada sebelumnya.” Setelah berkata demikian, Nessus akhirnya menemui ajalnya.

Beberapa tahun kemudian, Deianira merasa takut kalau Hercules tidak lagi mencintainya. Dia langsung teringat pesan yang disampaikan dari Nessus dan segera mengikuti kata-katanya tanpa ada rasa curiga sedikitpun.

Deianira segera mencelupkan sepotong jubah dalam ramuan darah Centaurus dan mengenakan pada suaminya. Namun, terjadilah sesuatu yang mengerikan dan jauh sekali yang diharapkan. Nessus ternyata telah berdusta, ia tahu bahwa panah yang telah membunuh dirinya itu adalah panah beracun dan ia ingin membalas dendam.

Racun itu langsung membakar tubuh Hercules seperti nyala api. Sambil mengeluh kesakitan, Hercules berusaha melepaskan jubah itu, tetapi sia-sia. Jubah itu seakan-akan telah meresap memasuki kulitnya dan menyiksanya.

Karena tak mampu menahan pedih siksaannya itu, Hercules mengangkat timbunan kayu api dan membakar dirinya.

Demikian akhir hidup Hercules dengan derita yang cukup menyedihkan tetapi sebagai imbalan atas jerih payahnya menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, Yupiter mengangkat Hercules ke puncak gunung Olympus dan menjadikan anaknya sebagai makhluk yang tak dapat mati alias kekal abadi seperti para dewa.   

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Legenda Hercules Manusia Perkasa dan Perjalanan Perjuangannya, yaitu jauhi rasa dengki dan iri hati, jangan merasa angkuh dan mudah marah, segala penyesalan itu pasti datang terakhir, siap menerima tantangan dan berani bertanggung jawab, pantang gentar dan takut, pergunakan kelebihan demi kebaikan dan menyelamatkan orang lain, orang yang kuat sebenarnya adalah orang yang paling sabar, cerdik dan pandai berstrategi, selalu waspada dan berhati-hati, jauhi bertindak gegabah dan ceroboh, mintalah sesuatu dengan baik dan sopan, provokasi dan adu domba dapat menyebabkan petaka dan kemalangan bagi orang lain, jangan pernah mempercayai sedikitpun terhadap orang yang pernah mencelakai orang lain.  

Semoga kisah dongeng di atas bisa membantu kamu terkait pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Sumber : Buku "Kumpulan Dongeng Anak Sedunia" karangan MB. Rahimsyah AR.

Berlangganan via Email