Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Legenda Persephone dan Dewa Pluto - Asal Mula Musim Silih Berganti (Romawi)


Legenda Persephone dan Dewa Pluto - Asal Mula Musim Silih Berganti (Romawi)

Ceres, Si Dewi Pertanian, memiliki seorang putri yang cantik jelita, bernama Persephone. Pada suatu hari, ketika gadis itu sedang mengumpulkan bunga-bunga liar di padang, Pluto, Dewa Para Penghuni Kerajaan Maut melihatnya.

Pluto amat terkesan oleh kecantikan Persephone dan sifatnya yang lemah gemulai. Karena jatuh cinta kepada gadis itu, Pluto menculiknya, menaikkan dalam keretanya, lalu menghilang di suatu jurang, dan membawa Persephone ke istananya.

Sementara itu, Ceres yang menunggu kepulangan putrinya di istana menjadi cemas, karena Persephone tak kunjung kembali. Kemudian, ia mulai mencarinya di semak-semak belukar, di padang, dan di semua hutan sambil memanggil-manggil putrinya.

Sekeras apapun teriakan Ceres memanggil, Persephone tak juga menjawabnya dari kedalaman Kerajaan Maut. Dewi Pertanian itu menjadi sedih, ia menangis dan menangis tersedu-sedu tanpa henti.

“Sia-sia kau mencari putrimu, Ceres,” kata Matahari yang melihat penculikan Persephone. “Putrimu diculik oleh Pluto, yang hendak menjadikannya Ratu di Kerajaan Maut.”

Mendengar penjelasan Matahari, Ceres segera menemui Yupiter untuk memohon agar para dewa yang lain dapat membantunya untuk membebaskan Persephone, tetapi sayangnya tak ada satu dewa pun yang bersedia membantu Ceres.  

Dengan putus asa, Ceres meninggalkan Olympus dan mengembara di padang-padang, ia merasa tak dapat menanggung kemalangan besar yang menimpa dirinya. Air mata Ceres terus menerus berlinang membasahi pipinya, dan titik-titik air matanya itu yang jatuh ke tanah, membuat tetumbuhan dan tanahnya menjadi kering.

Manusia mengalami kekurangan hasil bumi, dan mulai menderita kelaparan. Tak ada sesuatu pun yang tumbuh, dan binatang pun banyak yang mati bergelimpangan, karena tak ada tumbuhan yang dimakannya sama sekali.

Karena kasihan terhadap manusia, akhirnya Yupiter mengutus Mercurius untuk pergi ke Kerajaan Maut, dengan perintah untuk membebaskan Persephone dan menyerahkan kembali kepada ibunya. Dengan memakai kasut terbangnya, Mercurius menghadap Pluto.

“Kehendak Yupiter kuhormati,” kata Pluto. “Akan kubebaskan Persephone, agar kembali kepada ibunya.”

Kemudian, Pluto memanggil Persephone, dan mengatakan kepadanya, bahwa ia bebas untuk pergi. Sebelum Persephone berangkat pulang, Pluto memberinya sebuah buah delima ajaib. Siapa pun yang memakan buah itu, pasti akan rindu untuk kembali lagi. Kemudian, Persephone meninggalkan kegelapan Kerajaan Maut, dan naik ke dunia yang diterangi oleh sinar matahari.

Ceres menyambut kepulangan anaknya dengan penuh gembira, dan tiba-tiba Bumi menjadi hijau kembali, bunga-bunga dan kuncupnya mulai muncul bermekaran dimana-mana. Semua makhluk hidup dapat memuaskan perutnya dari rasa lapar dan dahaga mereka, dan mereka kembali bahagia.

Beberapa bulan kemudian, karena buah delima itu dimakan oleh Persephone, kini gadis itu merasa rindu untuk kembali kepada Pluto.

“Aku bahagia dan senang tinggal bersama Ibu disini, tetapi muncul sesuatu yang mendorongku untuk kembali ke Kerajaan Maut, tempat suamiku yang menanti diriku.” kata Persephone kepada ibunya.
Ceres langsung tahu ternyata Pluto telah mempengaruhi dan menjadikannya seperti demikian. 

Meskipun ia berusaha meyakinkan Persephon untuk tetap tinggal bersamanya, tetapi kemauan putrinya itu sudah bulat dan tidak dapat dihalangi lagi.

Akhirnya, Persephone kembali ke Istana Pluto dan tinggal di sana selama beberapa bulan. Selama masa itu, tumbuh-tumbuhan menjadi kehilangan buahnya, dan angin utara berhembus membawa udara dingin dan badai besar.

Namun, bila Persephon sudah kembali pada pangkuan ibunya, bumi berubah menjadi hijau kembali, pohon-pohon dipenuhi dedaunan dan buahnya.  Sesungguhnya Yupiter telah memutuskan, Persephone akan melewatkan waktunya selama 8 bulan bersama Ceres, ibunya, dan 4 bulan bersama Pluto, suaminya. Dengan demikian, semuanya akan adil.

Demikianlah sebabnya mengapa ada pergantian musim. Ketika Persephone turun menemui para penghuni Kerajaan Maut, bumi berkabung. Ketika gadis itu kembali lagi, bumi cerah menghijau dan pergantian musim seperti ini tidak akan pernah berakhir.  

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Legenda Asal-Usul Musim Silih Berganti, yaitu terkadang kelebihan yang dimiliki seseorang dapat menjadi cobaan untuk dirinya sendiri, bukti kecintaan orang tua terhadap anaknya, kita harus ikut membantu dan punya rasa peduli terhadap orang yang mengalami kesulitan.

Semoga kisah dongeng di atas bisa membantu kamu terkait pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Sumber : Buku "Kumpulan Dongeng Anak Sedunia" karangan MB. Rahimsyah AR.


Berlangganan via Email