Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Penyesalan Si Raja Creon yang Terlambat (Yunani)



Kisah Si Raja Bengis dan Penyesalan Yang Terlambat – Yunani

Ketika langit menjadi gelap dan bulan tersapu dengan kabut, Antigone mengendap-endap keluar dari Thebes, menuju tanah lapang. Ia membawa berbagai perlengkapan yang diperlukan untuk pemakaman, ramuan pengurap, air pembasuh, minyak wangi, dan kain pembungkus mayat. Antigone ingin mengubur jasad saudaranya, Polyneices, dalam suatu makam kosong tak seberapa jauh dari tempat kematian Polyneices.

Polyneices telah menyerang kota untuk merebut tahta dari Eteocles, saudara lelakinya sendiri, tetapi keduanya tewas dalam duel. Creon, Paman kedua pangeran itu, mengangkat dirinya menjadi raja Thebes dan memerintahkan agar mayat Polyneices dibiarkan saja menjadi makanan anjing dan burung hering. Namun, Antigone bertekad untuk menguburkan Polyneices secara layak.

Dirasa tidak ada seorang pun yang melihatnya, Antigone mendekati jasad Polyneices yang tergeletak kaku di atas tanah. Lalu, gadis tersebut membersihkannya, mengurapi, mengolesinya dengan minyak wangi, dan membungkusnya dengan kain putih. Dengan menangis, Antigone menarik jasad saudaranya ke pemakaman dan membaringkannya di sana.

Ketika pekerjaan yang menyedihkan dan melelahkan itu telah usai, matahari telah terbit. Dengan segera, Antigone kembali ke rumahnya. Lewat beberapa jam kemudian, pengawal-pengawal raja mengetuk pintu rumahnya.

“Antigone. Creon memerintahkan dirimu untuk menghadap Dewan Orang-Orang Bijak !” kata pimpinan pengawal tersebut.

Dewan Orang-Orang Bijak, adalah suatu dewan penasihat Raja dalam urusan-urusan yang sulit dan terbelit-belit. “Pasti ada orang yang melihat saat aku menguburkan saudaraku, dan dia pasti telah melapor,” pikir Antigone. Tetapi bagaimana pun, ia tak ingin melarikan diri dan merasa tak perlu malu atas apa yang telah dilakukannya.

Oleh karena itu, dengan berani Antigone hadir di depan dewan. Ia segera melihat bahwa di dekat Creon berdiri seorang penjaga pintu gerbang. “Pasti orang itu yang telah melaporkan,” kata Antigone dalam hati.

“Datanglah mendekat, Antigone !” kata Raja Creon dengan kasar. Kemudian, dengan memandang para dewan bijak, ia meneruskan ucapannya, “Kalian mengetahui bahwa aku telah memerintahkan agar Eteocles, si pembela tanah air mendapat penguburan yang layak, dan agar Polyneices yang merupakan pengkhianat negara, dibuatkan jadi mangsa anjing-anjing dan burung hering. Hai, para dewan bijak, apakah dalam pandangan kalian terhadap perintahku ini sudah tepat ?”

“Ya, begitulah kami kira !” sahut mereka seakan takut untuk membantah.
“Tetapi, ada orang yang tidak mematuhi perintahku, karena pagi tadi mayat Polyneices tidak ada lagi di tanah lapang !” lanjut Creon.

Muncul keheningan, tak ada yang bersuara di dalam gedung itu. Semuanya diam membisu.
“Penjaga benteng kota telah melihat seseorang mengambil mayat pengkhianat itu dan menguburkannya. Antigonel ! Kau telah membangkang terhadapku ! Kau telah menguburkan Polyneices. Penjaga benteng telah melihat, dan kau jangan menyangkal !”

“Tidak ! Aku tidak menyangkalnya,” jawab gadis itu dengan tenang. “Hai Raja, kau telah memberi perintah, tetapi hatiku juga memberi perintah terhadap diriku. Aku memang punya kewajiban untuk mentaati perintah-perintahmu, tetapi aku juga wajib melaksanakan apa yang menjadi hukum kodrat. Aku melaksanakan apa yang kuyakini tepat dan benar. Dan kini, lakukanlah juga terhadapku apa yang anggap tepat dan benar !”

“Akan kulakukan apa yang kujanjikan untuk dilaksanakan !” teriak Creon dengan bengis.

Kemudian, ia memerintahkan agar Antigone dikubur hidup-hidup dalam sebuah goa. Salah satu anggota dewan mengingatkan Creon, bahwa Antigone telah ditunangkan dengan anak raja itu sendiri, yang bernama Haemon.

“Aku akan mencarikan calon lain untuknya,” jawab Raja Creon dengan acuh.

Haemon pun memohon agar Antigone, tetapi Creon tak mendengarkan dan mengabaikan permintaan putranya. Seluruh penduduk kota merasa ngeri mendengar vonis yang mengerikan itu. Namun, Antigone sendiri dengan tenang membiarkan dirinya dikurung dalam Goa.

Beberapa hari telah lewat, seluruh kota seperti tenggelam dalam derita dan kesunyian. Orang-orang Thebes seperti prihatin, mereka seakan ikut merasakan penderitaan Antigone yang malang itu bakal sekarat secara mengenaskan. Haemon, tunangan gadis itu, menutup diri di dalam kamarnya, sambil merasa putus asa.

Pada suatu ketika, Tiresias, seorang peramal buta berteriak-teriak minta dipertemukan untuk menghadap Raja Creon. “Raja Creon, tindakanmu tidak tepat, tidak bijaksana !” kata Tiresias setelah berada di hadapan Raja Creon.

“Kau telah bersikap keji terhadap gadis yang tak bersalah, yang bertindak atas dasar belas kasihan dan kasih sayang ! Waspadalah, Raja Creon. Waspadalah !”
“Aku tak mau mendengarkan ucapanmu !” sahut Raja Creon.
“Hati-hatilah kau ! Bila kau tidak mendengarkan suara hati, maka hatimu akan remuk !” tukas peramal buta dengan nada ancam.

Akhirnya, Raja Creon terkejut dan merasa takut dengan apa yang diucapkan Tiresias, ia tahu ramalan Tiresias tak pernah meleset.

“Baiklah, aku biarkan gadis itu hidup. Keluarkan dia !” kata Raja Creon.

Dengan hati gembira dan perasaan lega, semua penduduk kota berlari menuju gua tempat Antigone dikubur hidup-hidup. Haemon yang tiba di sana paling awal, sampai di sana ia memanggil-manggil kekasihnya, tetapi ketika batu berakhir yang menutupi pintu goa itu disingkirkan, suara Haemon tertelan di kerongkongannya.

Ia melihat Antigone dalam keadaan tergeletak mati, dan pembatalan hukum Raja Creon terhadap gadis yang malang itu benar-benar terlambat datangnya. Dengan kesedihan yang mendalam, Haemon menghunus pedangnya, dan menusukkan ke dadanya sendiri. Pemuda itu jatuh tersungkur penuh bersimbah darah di atas jasad calon istrinya itu.

Raja Creon terkejut mendengar tindakan nekad anaknya itu, Haemon. Raja akhirnya datang bergegas dan langsung mengambil mayat putranya sambil terisak-isak sedih. Sayangnya, kepedihan yang dialami Raja Creon tidak hanya sampai disitu saja. Eurydice, istrinya Raja Creon yang terlanjur mendengar tentang peristiwa yang menyayatkan hati itu langsung bunuh diri.  

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Penyesalan Raja Creon yang Terlambat, adalah jangan menjadi orang keji, kejam dan bengis, bersikap adil dan bijaksana, berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, jauhi perbuatan zalim, kita harus punya hati nurani dan rasa perikemanusiaan terhadap orang lain seburuk apapun dia, dan tidak ada gunanya untuk menyesal karena penyesalan pasti datang terlambat.

Semoga kisah dongeng di atas bisa membantu kamu terkait pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Sumber : Buku "Kumpulan Dongeng Anak Sedunia" karangan MB. Rahimsyah AR.


Berlangganan via Email