Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Legenda Kembali ke Argos - Terbunuhnya Medusa (Yunani)


Kembali ke Argos - Terbunuhnya Medusa (Yunani)

“Hati-hati, jaga diri baginda terhadap cucu-cucu paduka. Karena pada suatu hari, ia akan membunuh baginda !” kata seorang peramal kepada Raja Acrisius di Argos. Karena merasa cemas, dan takut ramalan itu akan terbukti, Acrisius mengurung Danae, putri satu-satunya.

Di dalam penjara, tak seorang pun dapat menjenguk Danae. Nah, dengan demikian ia tidak akan menikah, tak akan mempunyai anak, dan aku tak memiliki cucu, pikir Raja Acrisius. Tetapi tempat itu yang tidak dapat dimasuki oleh manusia ternyata dapat dimasuki oleh Dewa Yupiter. Karena merasa kasihan kepada Danae, Dewa Yupiter memberinya seorang anak laki-laki, yang kemudian diberi nama Perseus.

Ketika Raja Acrisius mengetahui bahwa dalam penjara Danae mempunyai seorang anak, tubuhnya gemeter, dan perasaannya menjadi ketakutan. Ia perintahkan prajuritnya untuk memasukkan Danae dan anaknya ke dalam peti tertutup, lalu dilemparkan ke tengah laut agar tenggelam.

Tetapi Dewa Yupiter tak menghendaki peti itu tenggelam, dibuatnya terapung-apung di atas ombak dan hanyut karena tiupan angin, hingga sampai di Pulau Seriphos. Peti yang berisi Danae dan putranya, Perseus, ditemukan oleh para nelayan, dan kemudian membawanya menghadap Raja Polydectes.

Melihat kecantikan Putri Danae, Raja itu merasa jatuh cinta, dan ia bermaksud memperistrinya.

Maka, tinggallah Danae dan Perseus di dalam Istana Raja Polydectes. Perseus tumbuh dewasa di lingkungan kerajaan, ia telah menjadi seorang yang kuat dan pemberani, tetapi keberadaannya menjadi sang raja merasa jengkel terhadapnya.

Ia ingin memiliki Danae seutuhnya. Ketika waktu saatnya sudah tiba, maka ia berusahalah menjauhkan Perseus dari Seriphos. Pada suatu hari, ketika Polyndectes mengadakan pesta dan semua orang mempersembahkan hadiah kepadanya.

“Hadiah, apa yang kau inginkan dariku, Baginda Raja ?” tanya Preseus.
“Aku ingin kepala Gorgon Medusa !” jawab Polyndectes.
“Baiklah, besok aku akan pergi mencari Medusa, dan akan kubawa pulang kepalanya untuk kupersembahkan pada paduka.”

Ketika sedang bersiap-siap untuk berangkat, Perseus berpikir mengenai ketidakbijaksanaan Polyndectas. Mendusa adalah binatang besar mengerikan yang tinggal di gua, di Negeri Kegelapan Malam.

Ia memiliki rambut ular berbisa di kepalanya, dan apabila orang langsung memandangnya akan diam membatu seperti patung. “Bagaimana, aku dapat melawannya dan kembali dengan selamat ?” pikir Perseus, hatinya mulai merasa takut tetapi Dewa Mercurius segera menampakkan diri kepadanya.

“Jangan takut, Perseus. Aku dan Minerva akan membantumu, karena kami adalah sahabat orang-orang pemberani. Nah, ambillah helmku, yang akan membuatmu tak terlihat oleh pandangan mata. Kenakan kasutku, kau akan dapat terbang seperti aku. Ambil perisai yang mengkilap seperti cermin ini. Melalui bayangannya, kau dapat melihat Medusa, dan tidak langsung memandangnya. Dengan demikian, kau tidak akan menjadi patung batu. Dan, ini sebilah pedang serta karung yang dikirimkan oleh Dewi Minerva untukmu. Ayo kita pergi !” kata Mercurius.

Demikianlah, Mercurius dan Perseus berangkat dengan perjalanan yang amat mengagumkan, terbang ke Negeri Kegelapan Malam, yang dibatasi oleh kematian. Yang mengetahui tempat Medusa hanya saudari-saudarinya yang berkulit abu-abu dan hanya memiliki satu mata.

Perseus merebut mata itu ketika sedang dicopot untuk digilir di antara mereka, dipakai bergantian. Mereka berteriak dan meraung, tetapi tanpa mata mereka tak dapat berbuat apa-apa. Oleh Perseus, mereka dipaksa untuk memberitahukan tempat Medusa.

Kemudian, Perseus pergi ke pantai yang amat sepi. Di tempat itu, ia menemukan persembunyian Para Gorgon. Tiga bersaudari, Stheno, Euryale, dan Medusa. Mereka tertidur dengan lelap, tetapi ular-ular berbisa yang menempel di permukaan kepala Medusa selalu berjaga-jaga, melindunginya dengan menyemburkan bisa ke arah Perseus.

Perseus terus berusaha masuk ke dalam goa dengan berjalan mundur, sambil memandang Medusa yang terpantul dari perisainya yang mengkilap. Hanya dengan sekali sabetan pedangnya, Perseus berhasil memenggal kepala Medusa, lalu mengambilnya dan memasukkan ke dalam karung.

Mendengar suara gaduh, kedua Grogon yang lain terbangun. Sambil meraung-raung, mereka berusaha menangkap Perseus tetapi pemuda itu segera mengenakan kasut dan helmnya, dan dengan tak kelihatan ia terbang melarikan diri.

Polyndectas yang berharap Perseus tak kembali lagi, tak dapat menyembunyikan kejengkelannya. Ia berteriak, “Kau berbohong, Perseus ! Kau tak mungkin dapat membunuh Medusa ! Kau seorang penipu, oleh karena itu pergi kau dan jangan kembali lagi ke istanaku !”
“Kalau kau tidak percaya padaku, lihatlah !” sahut Perseus seraya menarik dari karungnya kepala Medusa, yang matanya mendelik setengah tertutup.

Polyndectes terkejut memandangnya, dan ia tiba-tiba berubah diam menjadi patung batu. Lalu, Perseus mempersembahkan kepala Medusa kepada Dewi Minerva. Kemudian, Sang Dewi turun mengambilnya, serta menempelkan di tengah perisainya untuk menakut-nakuti para lawannya dalam peperangan.

“Polyndectes telah mati,” kata Perseus kepada ibunya, Danae. “Apa yang akan kita lakukan sekarang, Ibu ?” “Hanya satu yang bisa kita lakukan, kembali ke Argos,” jawab Danae. Maka, segera mereka berlayar menuju  tempat kelahiran mereka. 

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Legenda Kembali ke Argos – Terbunuhnya Medusa, adalah jangan terlalu mudah percaya takhayul atau tukang ramal, jauhi rasa jengkel dan ingin mencelakakan orang lain, kita tidak bisa lari dari takdir yang sudah ditentukan, dan niat jahat akan membuat petaka terhadap pelakunya sendiri.

Semoga kisah dongeng di atas bisa membantu kamu terkait pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Sumber : Buku "Kumpulan Dongeng Anak Sedunia" karangan MB. Rahimsyah AR.

Berlangganan via Email