Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dongeng Ugui dan Ketam Buan – Berebut Wilayah Kekuasaan


Dongeng Ugui dan Ketam Buan – Berebut Wilayah Kekuasaan

Dahulu kala, konon segala binatang pandai bercakap-cakap seperti manusia. Ketika itulah hidup berjenis-jenis ketam di Pantai Pulau Pertam. Suatu hari, berjalanlah Ugui mencari makanannya dan secara tidak disadarinya lewat di muka Ketam Buan. Kedua jenis ketam ini memiliki banyak perbedaan baik di sisi bentuk maupun rupanya.

Ugui mempunyai ciri-ciri bertubuh kecil kerempeng, kakinya kecil, tetapi panjang-panjang tungkainya, sehingga jalannya amat cepat. Sedangkan, Ketam Buan bertubuh kecil gempal, pendek-pendek ruas kakinya, berbintik-bintik bulat kecil ke seluruh tubuhnya itu, dan berjalan sangatlah lamban.

“Ceeer….kris-kras, ceeerrr…..,” Ugui berjalan cepat sekali, mengais-ngais makanan dengan sigap dan rajin. “Ceeerrr….. kris-kras-kris-kras….,” ia pun makan dengan gembira tanpa memperhatikan kiri-kanan lagi.

“Hei, Ugui !” bentak Ketam Buan agak tersinggung menggerutu dan iri hati melihat Ugui dengan mudah mendapatkan makanan di dekat dirinya itu. Dia sendiri belum mendapat rezeki sedikit pun pada waktu itu. Karena hatinya menggerutu, Ketam Buan berkata lagi kepada Ugui,

“Pongah sekali tindak-tandukmu itu Ugui, lewat di muka kepalaku tanpa bertabik – tidak pula bersalam. Bangsa apakah kau ? Tidak, beradat sedikit pun, patutlah tubuhmu kerempeng, tak hendak gemuk-gemuk juga walau makan habis sekeranjang. Kaki panjang seperti hantu laut bersetongkah. Hui… jelek, tidak punya adat. Cari makan dekat kediaman orang, itu pun pongah pula.” Ucap Ketam Buan penuh makian dengan sumpah serapahnya.

Ugui pun kaget mendengarnya, dan memandang Ketam Buan seraya berkata, “Sekalipun tubuhku kerempeng, kecil-kecil kakiku, aku tak pernah menyusahkan orang. Aku sanggup hidup dengan caraku sendiri, tidak seperti engkau. Perut buncit, dungu, suka mengata-ngatai orang saja.”

Ketam Buan membelalakkan matanya yang bulat besar, membentak-bentak Ugui dengan kasar, “Sudah pintar melawan aku ya, engkau sekarang Ugui ? Sadar-sadarlah dirimu sedikit, karena engkau mencari makan masih di tempatku ini !”

“Hai, Ketam Buan. Bukankah lingkungan Pantai Pertam ini milik kita bersama ? Bangsa Ketam mana pun bisa mencari makan di sini ? Bukan engkau sendiri saja yang punya, Buan !” jawab Ugui. “Pergilah engkau Ugui, karena polahmu di sini makanan kami jadi susut,” bentak Ketam Buan.

Karena tidak tahan caci maki, Ugui pun menghindar agak jauh dari situ. Namun pada suatu hari, bertemu lagi keduanya, dan kali ini Ketam Buan datang beserta kawan-kawannya. Sehingga Ugui terkepung, karena merasa terjepit, Ugui memanfaatkan kaki panjangnya untuk menarik langkah seribu dan berlari cepat-cepat, “Hiuup… ah !” dengan napasnya mendengus-dengus.

Ia merasa sedih sekali, “Kenapa aku ini sangat dibenci oleh Ketam Buan ?” pikir Ugui dalam keadaan masygul (bingung).

 Ketika itulah, lewat seekor burung Kedidi, terunggit-unggit di gigi air berpasir putih, tempat Ugui termenung. Burung Kedidi pun menyapa Ugui, “Hai, sobat. Kenapa engkau kelihatan bersedih ?”
“Kepalaku pusing,” sahut Ugui. “Aku memikirkan keadaan kami sudah kacau-balau. Tidak ada kecocokan masing-masing, sementara penengahnya tidak ada. Ketam Buan tahunya marah-marah saja. Yah, karena kami lebih rajin daripada mereka, tentulah rezeki kami lebih banyak, bukan ?”

Burung Kedidi yang arif bijaksana, menjelaskan, “Ehm, tahulah aku masalahnya. Kalian Bangsa Ketam rupanya selama ini tak pernah dikunjungi oleh Raja Ketam, karena itu kacau-balau.” Kata Si Burung Kedidi lagi, “Kunasihati engkau sekarang. Ugui, sebaiknya engkau menghadap Raja Ketam Bangkang di Hutan Bakau sana. Ceritakanlah padanya, tentang perselisihan Bangsa Ugui dengan Ketam Buan selama ini.”

Singkat ceritanya, menghadaplah Ugui ke hadapan Raja Ketam Bangkang. Ia mengadukan nasibnya yang selalu dicaci maki oleh Ketam Buan. Setelah Raja Ketam itu mengetahui duduk perkaranya, dipanggillah Ketam Buan itu untuk menghadap saat itu juga. Di hadapan Raja Ketam, Ketam Buan berdalih, “Ugui itu yang salah. Dia mengejek-ejek bangsa kami pemalas, bukan kami yang mengejek-ejek Bangsa Ugui itu."

Untunglah pada saat itu juga, datanglah Burung Kedidi. Ia menjadi saksi, “Bukan Ugui punya polah tuanku, tetapi justru Ketam Buan sendiri yang selalu mengata-ngatai Ugui itu. Ketam Buan memang suka berbohong, tuanku.”

Baginda Bangkang pun murka, “Nah…., tahulah beta Bangkang Raja Ketam, bahwa kalian ini tak boleh berada pada satu tempat lagi. Bangsa Ketam patut beta hukum !”

“Apa hukumannya, Tuanku ?” Ugui yang merasa tidak bersalah, memberanikan diri bertanya, “Tolong Tuan jelaskan, tentang hukuman buat kami Bangsa Ketam itu. Ampun, Tuanku !”
“Dengarkan oleh kalian semua ! Mulai saat ini, beta larang Bangsa Ketam Buan naik ke darat, dan tinggallah kalian di laut pasir yang dalam !”

“Ugui berjasa mengingatkan beta Raja Ketam. Engkau dibolehkan hidup di laut dan di darat sampai turun-temurun hingga ke anak cucumu !” titah Bangkang, Raja Ketam.

Konon, sejak itulah Ugui hidup dalam 2 alam, laut dan darat, sedangkan Ketam Buan tetap tinggal di dalam laut hingga sekarang selamanya.

Ugui adalah sejenis kepiting kaki panjang dan tangkas sekali bergerak di pasir pantai.  Karena gerakannya yang gesit itu, minyak lemak Ugui menurut kepercayaan Orang Laut dijadikan minyak urut obat lumpuh, dan juga dijadikan minyak urut kaki anak-anak yang lambat berjalan, supaya lebih kuat dan lekas dapat berjalan.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Dongeng Ugui dan Ketam Buan – Berebut Wilayah Kekuasaan, adalah kita harus bekerja keras agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal lagi, jangan suka iri hati dan dengki di saat orang lain mendapatkan rezeki lebih baik daripada kita, jangan mencela dan mencaci maki, mintalah sebuah nasehat kepada teman yang arif dan bijak, jangan berbohong apalagi menuduh fitnah ke orang lain dan harus bersikap adil dalam menyelesaikan sebuah perkara.   

Semoga kisah dongeng di atas bisa membantu kamu terkait pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Sumber : Buku "Kumpulan Dongeng Anak Sedunia" karangan MB. Rahimsyah AR.

Berlangganan via Email