Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dongeng Kera yang Rakus dan Hukum Karma


Dongeng Kera yang Rakus dan Hukum Karma

Kera yang satu ini memang jelek sekali tabiatnya. Ia pemalas, rakus, dan tamak sekali. Setiap hari, ia mencuri makan milik siapapun di sekitarnya. Padahal, ia sudah mempunyai makanan yang cukup. Ia menimbun makanan itu di tempat lain.

“Aku harus menambahnya sedikit lagi !” kata kera dalam hati. Diam-diam, ia juga membuat sebuah perahu, tapi karena kayunya keras sekali, ia tidak meneruskan. Ia mencari kayu lagi yang lainnya, dan terus mencari kayu yang lainnya lagi.

Dan, ketika mendapatkan kayu yang lunak, maka dengan lebih cepat sedikit ia bisa menyelesaikannya. Setelah selesai, ia membuat perahu tiba-tiba burung temannya datang menemui si kera.

“Hai sobat, hendak ke manakah kiranya hingga repot-repot membuat perahu ini” tanya si burung.
“Aku akan berlayar, dan kau boleh ikut serta, karena aku membawa makanan yang cukup !” kata sang kera. Mereka segera menyeret perahu itu ke pantai. Lalu, diusungnya barang perbekalan satu-satu.

Burung setia itu terus membantunya. “Nanti kita akan menemukan dunia yang baru. Makanan yang baru dan mendapatkan tanah makmur penuh makanan !” kata kera. “Aku setuju,” sahut burung itu. Sebelum mereka berlayar, mereka sepakat dengan sebuah perjanjian.

“Sebaiknya yang mendayung boleh makan karena berat, dan yang di depan tidak boleh makan !” kata kera. Burung merasa tidak mampu pegang dayung, akhirnya mengalah sebagai nakhoda, tetapi ia tidak bisa menikmati makanan perbekalan yang ada di perahu.

Kera tidak menyadari, kalau sang burung juga tahu tentang kebusukan tabiatnya, apalagi dengan perjanjian itu membuat sang burung jengkel sekali. “Awas kau, kera sialan !” ancam si burung yang dijadikan sebagai nahkoda di depan.

Burung itupun mematuk ujung perahu yang kayunya lunak itu. Kera yang asyik mendayung sambil makan perbekalan, tidak menyadari kalau perahu yang bagian depannya itu bocor karena dipatuk burung itu.

Maka, tenggelamlah perahu itu dan sementara burung itu pergi terbang meninggalkan si kera dengan penuh kesal. Sedikit-sedikit, kera merasa bisa berenang, maka selamatlah dia sampai tiba di tepian pantai pulau tujuan. Seperti biasa, ia sangat suka dengan buah buni, apalagi perutnya dalam keadaan sangat keroncongan.

Lalu, ia berjalan menuju hutan dimana terdapat pohon buah buni yang memang lezat rasanya. Dengan tak sabar lagi, kera dengan secepatnya naik menyusuri segenap ranting yang penuh buah. Ia berputar-putar merasa kalau sebuah pohon buni itu kini menjadi miliknya. Maka, tidak siapapun yang boleh memanjat pohon ini dan memakan buahnya.

Ia menghitung satu per satu jumlah buahnya, sehingga ia tahu kalau ada yang mengambil, tetapi karena burung-burung juga suka buah buni, mereka pun berdatangan menghampiri pohon buni itu. Semakin banyak yang datang, semakin congkak lah si kera ini sambil menyapa mereka.

“Kera, aku minta buah buni ini,” kata seekor burung.
“Ambillah di pulau yang lain,” jawab kera.
Datanglah burung hantu dan dia berkata, “Kera, bagilah buah buni padaku !” Lalu, kera menjawab, “Kau boleh ambil setelah menyanyikan lagu yang indah sekali untukku !” Burung Hantu pun menyanyi, “Kok, kok, kok, guuukk, guuukk,………..”
“Ah, pergilah !” kata kera. Maka, burung hantu pun pergi tidak menjauhi kera dan pohon itu.

Kemudian, datang burung cupu-cupu kiping menghampiri, “Kera, bagilah buah buni padaku !” Lalu, kera menjawab, “Kau juga boleh ambil setelah menyanyikan lagu yang indah sekali untukku !”
Burung cupu-cupu kiping pun menyanyi, “Cupu-cupu kiping, cupu-cupu kiping……..!”

“Ah, pergi sana ! Suaramu sama dengan burung hantu,” kata kera. Maka, burung itu pun pergi pula.
Datanglah burung Coet Rinting dan berkata, “Kera sahabatku, bagilah buah buni padaku !” Lalu, kera menjawab, “Silahkan, ambil asal menyanyikan lagu yang indah sekali untukku !” Burung itu pun menyanyi, “Cuit rinting………!”

Kera tidak menyahut apapun, kecuali manggut-manggut terpana. Burung Coet Rinting terus bernyanyi, sedangkan kera yang sudah kenyang betul dengan buah buni, maka perutnya menjadi gendut besar. Ia juga sudah tidak tahan terhadap kantuknya, terlebih lagi karena mendengar nyanyian burung yang merdu sekali seperti ini.

Maka, terlelaplah sang kera dalam tidurnya. Kelihatannya sang kera sudah tidak memperdulikan keadaan dirinya, karena sudah terlelap dalam tidur. Maka, ia tidak bisa dielakkan kera pun jatuh, jatuh dari atas pohon buni yang tinggi dan tersungkur ke tanah yang keras sekali.

Kera buni yang tinggi dan tersungkur ke tanah yang keras sekali. Kera hanya bisa mengadu kesakitan yang teramat sakit sekali. Kini, kera itu sudah jatuh tersungkur ke tanah, kesakitan, dan sudah tidak bisa bangun lagi.

Semua burung menghampiri pohon buni yang buahnya lezat itu dan menghabiskannya. Akhirnya, kera hanya bisa menyesali keburukan sifatnya, sehingga ia jatuh dan patah tulangnya.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Dongeng Kera yang Rakus dan Kena Karma, adalah jangan egois dan mengutamakan kepentingannya sendiri, jangan tamak dan rakus, hukum karma atau timbal balik pasti akan terjadi.

Semoga kisah dongeng di atas bisa membantu kamu terkait pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Sumber : Buku "Kumpulan Dongeng Anak Sedunia" karangan MB. Rahimsyah AR.

Berlangganan via Email