Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Waspada ! 5+ Gejala Mental Block Yang Wajib Dihindari Dalam Diri Kamu


Waspada ! Ini Gejala-Gejala Mental Block Yang Harus Kamu Hindari Dalam Diri Kamu

Dalam kebiasaan sehari-hari, kita pasti ingin mewujudkan passion yang sesuai dengan impian kita. Tanpa kita sadari, banyak kebiasaan yang membuat diri kita terhalang untuk mencapai apa yang dicita-citakan atau yang diimpikan. 

Berikut ini, inilah gejala-gejala yang harus kamu ketahui dan menjadi bahan intropeksi agar Mental Block tidak terjadi pada diri kamu. 

1. Suka Mengeluh

Seseorang yang suka mengeluh dan menggerutu atas segala hal yang terjadi pada dirinya, orang lain, atau lingkungannya, merupakan gejala bahwa ia terkena mental block. Apalagi jika keluhannya itu tidak disertai dengan solusi atau langkah konkret untuk perbaikan. Misalnya seorang karyawan, diberi pekerjaan tambahan oleh atasannya. Belum juga dikerjakan, ia sudah mengeluh, “Aduh yang sebelumnya aja belum selesai, udah ditambah lagi.”

    2. Memiliki Virus Perusak

Beberapa virus yang sering merusak, antara lain :

a.      Mudah Menyalahkan

Baik menyalahkan diri sendiri atau lingkungan. Misalnya, “Tuh kan, aku tuh emang gak bisa kalau disuruh hitung-hitungan. Jadinya malah salah semua” atau, “Gara-gara bos nih ngasih tugas tambahan. Makanya yang ini malah gak dikerjain. Coba kalau gak dikasih tugas, pasti bisa kelar.”

b.     Suka Mencari Alasan

Orang yang terkena virus ini, tidak mau mengakui kesalahan atau kekurangannya. Ia selalu mencari alasan agar ia tidak terlihat salah dan melemparkan segala kesalahan kepada orang lain.

c.      Suka Mencari Pembenaran

Misalnya, ekspresi-ekspresi, “Ya jelas lah saya miskin kayak gini terus. Kan saya gak punya modal gede. Apalagi pengalaman juga belum cukup. Mana koneksi juga gak ada. Jadi ya wajar aja.”
“Maklum lah dia bisa dapat beasiswa. Kan dia punya koneksi dengan pewawancara. Apalagi dia anak pejabat bisa aja kan dia pake jalur belakang.”

d.      Gengsi Terlalu Tinggi

Gengsi timbul dari penghargaan terhadap diri sendiri yang terlalu tinggi dan tidak dapat menempatkan diri secara tepat dan proporsional karena selalu berpikir bahwa ia lebih tinggi nilainya dari yang lain.

e.      Malas

Orang yang terkena virus ini cenderung suka menunda pekerjaan dan merasa masih ada waktu.

f.       Takut

Virus ini biasanya timbul dari trauma masa lalu yang pernah ia hadapi atau ia dengar. Virus inilah yang paling banyak menyebabkan seseorang mengalami mental block. Ada berbagai jenis rasa takut, antara lain takut gagal, takut salah, takut kalah, takut dicemooh, takut tidak dihargai, dan lain-lain.

g.       Selalu Menunggu

Seseorang yang terkena virus ini hanya mengandalkan peruntungan datang kepadanya. Ia tidak punya inisiatif untuk mengejarnya, dan akhirnya sebagian besar waktunya habis untuk menunggu.

h.     Tidak Percaya Diri

Virus ini membuat seseorang ragu-ragu untuk melangkah. Kalimat-kalimat, “Saya kan cuma…” selalu menghantui hidupnya.

i.       Buruk Sangka

Ia selalu pesimis. Baginya, peluang besar menjadi kecil. Peluang kecil, ia anggap tidak ada sama sekali.

3. Konflik Batin

Seseorang yang mengalami mental block, akan sering mengalami konflik batin. Ia selalu membawa asumsi yang lahir dalam pikirannya, kemudian ia benturkan dengan kenyataan. Ia menjadi mudah ragu dan gundah.

4. Tidak Ada Perubahan Kehidupan

Gejala lain mental block adalah kehidupan yang stagnan. Tidak ada perubahan yang berarti. Ketika teman yang memulai karirnya bersama dia telah melesat begitu jauh, ia masih saja berada di posisi yang sama, bahkan lama-kelamaan karirnya semakin menurun karena tidak bisa bersaing dengan pekerjaan lainnya.

5. Tidak Sreg

Saat kita menyarankan sesuatu kepada seseorang, kemudian dia menjawab, “tidak sreg”, kita bisa apa? Tidak sreg adalah sebuah alat untuk menolak ide, gagasan, dan inspirasi apapun. Dan setelah mengatakan tidak sreg, tidak ada lagi argumen yang bisa diajukan. Artinya tawaran kita ditolak. Titik.

6. Tidak Mau Mengambil Risiko

Gejala yang terakhir adalah, tidak mau mengambil risiko. Ia memilih zona nyaman dalam hidupnya dan tidak mau keluar untuk mengembangkan karirnya.   

Semoga artikel diatas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, jika ada pertanyaan silahkan tulis di komentar.


Sumber Referensi : Buku Passion For Millenial People, Dinar Apriyanto